Megawati Bicara Pemberdayaan Perempuan dalam Islam Saat Terima Gelar Doktor Kehormatan di Riyadh

3 menit membaca
Ninding Yulius Permana
Nasional, News - 10 Feb 2026

Indoragamnewscom, RIYADH-Pemberdayaan perempuan dalam Islam menjadi sorotan Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan pidato akademik di Princess Nourah Bint Abdulrahman University (PNU), Riyadh, Arab Saudi, Senin (9/2/2026). Pidato itu disampaikan dalam rangka penerimaan gelar doktor kehormatan.

Dalam orasinya, Megawati menegaskan bahwa konsep pemberdayaan perempuan dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari nilai amanah dan keadilan sebagai fondasi utama kepemimpinan.

“Dalam Islam, pemberdayaan perempuan tidak dapat dilepaskan dari konsep amanah dan keadilan. Islam mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak istimewa. Amanah menuntut pertanggungjawaban. Amanah menuntut keadilan,” kata Megawati.

Megawati menyampaikan bahwa Al-Qur’an telah menegaskan prinsip kesetaraan manusia. Ia mengutip surat An-Nisa ayat 1 sebagai dasar teologis bahwa perempuan dan laki-laki berasal dari satu jiwa yang sama.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa seluruh manusia diciptakan dari satu jiwa yang sama. Prinsip ini menjadi dasar teologis bahwa perempuan dan laki-laki setara dalam martabat kemanusiaan,” ujar dia.

Ia juga mengutip surat Al-Hujurat ayat 13 yang menyatakan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, suku, atau kedudukan sosial, melainkan oleh ketakwaan dan tanggung jawab moral.

“Prinsip-prinsip ini tidak berhenti pada teks. Sejarah Islam menunjukkan praktek yang nyata,” tutur Megawati.

Dalam pidatonya, Megawati menguraikan kiprah perempuan pada masa awal perkembangan Islam. Ia mencontohkan sejumlah tokoh perempuan yang berperan di berbagai bidang.

“Kita mengenal Khadijah binti Khuwailid sebagai pengusaha yang mandiri, sekaligus mitra intelektual dan moral Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Kita mengenal Aisyah binti Abu Bakar sebagai periwayat hadis dan rujukan keilmuan yang menjadi sumber pengetahuan umat hingga hari ini,” tutur Megawati.

“Kita mengenal Ummu Salamah yang pemikirannya didengar dalam pengambilan keputusan penting umat Islam. Kita juga mengenal Nusaibah binti Ka‘ab yang menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam menjaga komunitas Muslim pada masa awal Islam,” sambung dia.

Menurut Megawati, Islam tidak pernah menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus disingkirkan. Ia menilai perempuan memiliki posisi terhormat dalam peradaban.

“Perempuan hadir sebagai penjaga nilai, penopang moral dan keadilan, dan penggerak peradaban,” kata Megawati.

Dalam orasi ilmiah tersebut, Megawati juga menceritakan perjalanan panjangnya di dunia politik. Ia pernah menjadi anggota DPR, Ketua Umum PDIP, wakil presiden, hingga presiden, serta menjadi presiden perempuan pertama di Indonesia.

“Hingga saat ini, saya juga memimpin Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Sebuah lembaga kenegaraan yang bertugas menguatkan dasar negara dan ideologi bangsa kami, yakni Pancasila. Sekaligus memimpin Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tempat para ilmuwan terbaik kami melakukan riset dan inovasi nasional. Dua lembaga kenegaraan tersebut menjadi bagian dari pemerintahan Republik Indonesia,” bebernya.

Dari pengalaman tersebut, Megawati menyebut ada satu pelajaran yang ia pegang terkait tata kelola pemerintahan dan peran perempuan dalam pengambilan keputusan.

“Justru sebaliknya, kualitas pemerintahan sangat ditentukan oleh sejauh mana perempuan dilibatkan secara bermakna dalam pengambilan keputusan,” imbuhnya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 days ago
2 weeks ago
3 weeks ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!