Film Crocodile Tears karya Tumpal Tampubolon tayang 7 Mei 2026. Setelah 33 festival, Marissa Anita dan Yusuf Mahardika hadirkan thriller psikologis tentang ibu dan anak/Foto: IstimewaIndoragamnewscom-Seorang ibu tunggal di peternakan buaya Jawa Barat. Keyakinannya aneh: buaya putih di kandang itu jelmaan suaminya.

Tumpal Tampubolon mengangkat realisme magis ini ke layar lebar lewat debut panjangnya, Crocodile Tears. Bukan sekadar film tentang perlindungan ibu. Ini tentang kontrol yang berubah jadi teror psikologis.
Film yang diproduseri Mandy Marahimin ini sduah tanyang di bioskop Indonesia sejak Kamis (7/Mei/2026). Sebelumnya, Crocodile Tears sudah mengitari lebih dari 30 ajang internasional. Perdana di Toronto International Film Festival 2024, lalu Busan, London, hingga Red Sea.
Di antaranya, film ini menyabet penghargaan Direction Award dan Nongshim Award di Jakarta Film Week 2025.

Marissa Anita memerankan Mama. Bersama Johan (Yusuf Mahardika), ia menjalani hidup terisolasi di tengah buaya. “Mama percaya bahwa seekor buaya putih di taman itu adalah suaminya sekaligus ayah Johan,” demikian keterangan tertulis dari tim produksi.
Kehidupan monoton itu pecah saat Arumi (Zulfa Maharani) hadir. Si ibu pun merasa terancam. Ia takut Arumi merebut anak satu-satunya.
Ketegangan mencapai puncak saat Johan memboyong Arumi tinggal bersama mereka. Sutradara Tumpal Tampubolon sengaja merancang sosok ibu yang kompleks.
Dalam sesi tanya jawab di Instagram, ia ingin memicu pertanyaan, bukan memberi jawaban pasti. Adegan demi adegan dibangun pelan, menekan, tanpa kejutan instan khas horor pada umumnya.
Crocodile Tears adalah debut Tumpal setelah dikenal lewat film pendek dan naskah 212 Warrior. Ia mengolah cinta yang melindungi sekaligus menyesakkan.
Produser asal Singapura, Anthony Chen, menyebut karya ini sebagai bukti keragaman sinema Asia Tenggara. Lika-liku hubungan racun itu berlangsung selama 98 menit.
Selain tiga nama utama, film ini juga menampilkan Agnes Naomi hingga Ravi Septrian sebagai pendukung. Mereka melengkapi cerita yang terinspirasi dari dokumenter tentang buaya betina yang melindungi anaknya di dalam rahang.







Tidak ada komentar