Anggota Komisi I DPR RI Andina Thresia Narang/Foto: Humas DPR RIIndoragamnewscom, JAKARTA-Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI didesak segera merumuskan peta jalan komprehensif guna membangun kapasitas militer berbasis teknologi tinggi.

Langkah ini dinilai mendesak agar sistem pertahanan nasional tidak tertinggal dalam transformasi global, terutama menghadapi pergeseran taktik peperangan modern yang kini beralih ke ruang siber, kecerdasan buatan, hingga manipulasi data informasi.
Rivalitas geopolitik yang kian kompleks menuntut postur militer Indonesia bertransformasi di luar batas konfrontasi fisik konvensional. Otoritas pertahanan kini dimintai pertanggungjawaban konkret mengenai capaian pemenuhan kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force) serta parameter kesiapan alutsista mutakhir di lapangan.
“Melihat perkembangan perang modern yang semakin mengarah pada artificial intelligence atau AI, ada autonomous weapon system, cyber warfare, dan juga peperangan berbasis data serta informasi,” ujar Anggota Komisi I DPR RI Andina Thresia Narang dalam Rapat Kerja bersama Menhan dan Panglima TNI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta dikutip Rabu (20/5/2026).

Ancaman asimetris generasi baru tersebut menengarai bahwa modernisasi persenjataan tidak lagi bertumpu pada kuantitas fisik semata, melainkan pada penguasaan teknologi strategis mandiri.
Parlemen mendorong penguatan ekosistem pertahanan terintegrasi yang melibatkan peningkatan mutu sumber daya manusia, kemampuan intelijen siber, serta pengurangan ketergantungan pada rantai pasok asing.
Adaptasi cepat terhadap pola peperangan digital ini menjadi kebutuhan krusial demi menjaga daya tangkal sekaligus kedaulatan wilayah di tengah ketidakpastian global.
“Bagaimana roadmap TNI membangun kapasitas pertahanan berbasis high technology agar Indonesia tidak tertinggal dalam transformasi military affairs global,โ katanya.
โDan juga bagaimana kesiapan kita menghadapi perang generasi baru dan perang asimetris global saat ini,โ tambahnya.







Tidak ada komentar