Pacuan kuda tradisional Gayo di Takengon dengan joki cilik tanpa pelana. Tradisi sejak era kolonial yang masih lestari setiap tahun/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Mereka masih duduk di bangku SMP. Beberapa bahkan belum genap 13 tahun. Tanpa pelana, hanya berpegangan pada tali kekang, mereka melesat di lintasan tanah.

Inilah joki cilik pacuan kuda tradisional Gayo, pesta rakyat yang berlangsung tanpa promosi, tanpa komando, tapi setiap tahun membanjiri Takengon.
Ajang ini digelar dua kali setahun di Kabupaten Aceh Tengah: Februari untuk memperingati hari jadi Kota Takengon dan Agustus untuk HUT Kemerdekaan RI. Dua kabupaten pemekaranโBener Meriah dan Gayo Luesโjuga menyelenggarakan versi mereka sendiri setahun sekali.
Sejarah panjang di Tanoh Gayo

Tradisi ini telah ada jauh sebelum Belanda menginjakkan kaki di Tanah Gayo. Awalnya, masyarakat menyelenggarakan pacuan kuda untuk merayakan masa panen padi antara Agustus dan September. Konon, kegiatan pertama kali dilakukan di pinggir Danau Laut Tawar, kawasan Pante Menye, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.
Kala itu, kuda yang dipacu adalah kuda pembajak sawah. Perlombaan tanpa fasilitas khusus: tanpa lintasan resmi, tanpa perlengkapan joki.
Memasuki tahun 1912, pemerintah kolonial Belanda mulai mengatur pacuan ini secara resmi dan memusatkannya di Takengon. Mereka menyelenggarakannya untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina. Setelah kemerdekaan, konsepnya bergeser: menjadi perayaan HUT RI dan refleksi rasa suka cita rakyat Gayo.
Kuda Astaga dan harga diri
Kuda yang digunakan kini adalah hasil persilangan kuda Australia dan kuda Gayo. Masyarakat menyebutnya “Astaga” singkatan dari Australia-Gayo. Ukurannya lebih besar dan larinya lebih cepat. Kuda Gayo asli yang bertubuh kecil perlahan mulai tergantikan.
Pemenang pacuan tidak selalu mendapat hadiah uang. Dalam kebiasaan lama, kemenangan memberikan “gah”โmarwah, gengsi, status sosial yang dipertahankan dan dipertaruhkan. Usai perlombaan, masyarakat mengadakan syukuran dengan memotong hewan ternak dan makan bersama.
Sejak 1930-an, pacuan kuda Gayo menjadi ajang tahunan terorganisir. Saat ini, lintasan utamanya berada di Blang Bebangka, Kecamatan Pegasing, setelah berpindah dari Lapangan Musara Alun di pusat Takengon.
Takengon sendiri dikelilingi bukit hijau dengan udara sejuk. Danau Lut Tawar membentang di selatan kota. Kopi Gayo dari wilayah ini diekspor ke luar negeri melalui Pelabuhan Belawan, Medan.







Tidak ada komentar