Jengkol bisa mengontrol diabetes tapi juga memicu gagal ginjal akut/Ilustrasi : IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Bagi sebagian masyarakat Indonesia, jengkol adalah lauk tak tergantikan. Tapi di balik kenikmatannya, buah berkulit keras ini menyimpan dua wajah yang bertolak belakang.
Kandungan asam jengkolat yang memberi cita rasa khas sekaligus bisa meracuni ginjal jika dikonsumsi tanpa batas. Sementara riset terbaru membuktikan, ekstrak kulit jengkol berpotensi mengontrol diabetes tipe 2.

Dalam setiap 100 gram jengkol mentah, terkandung sekitar 151 kalori, 17,8 gram protein, dan 29,4 gram karbohidrat. Seratnya mencapai 5,2 gram, cukup signifikan untuk membantu sistem pencernaan. Jengkol juga kaya kalsium, fosfor, kalium, dan vitamin C. Angka-angka ini menempatkan jengkol di atas rata-rata bahan pangan nabati lain untuk urusan protein.
Yang membuat para peneliti kepincut adalah potensi antidiabetesnya. Sebuah studi dari Departemen Gizi Universitas Andalas yang terbit Juni 2025 di Jurnal Gizi dan Dietetik IPB membuktikan, ekstrak kulit jengkol mampu menghambat enzim α-glukosidase hingga 50 persen pada konsentrasi 94,038 µg/ml.
Enzim ini bertanggung jawab memecah karbohidrat menjadi gula darah. Penghambatannya berarti lonjakan gula setelah makan bisa ditekan—mirip cara kerja obat diabetes seperti acarbose atau glukobay.

Penelitian terdahulu juga menunjukkan infusa biji jengkol konsentrasi 10 persen menurunkan kadar glukosa darah mencit hiperglikemia hingga 56,35 persen dalam satu jam pertama. Efeknya bergantung pada dosis yang diberikan. Semakin tinggi dosis, semakin kuat penurunannya, meski ada batas optimalnya.
Tapi di sinilah masalah dimulai. Kandungan yang sama yang memberikan manfaat medis, asam jengkolat, bisa berubah menjadi racun. Dalam istilah medis, keracunan ini disebut djenkolism atau kejengkolan.
Seorang anak laki-laki 12 tahun di Padang harus menjalani perawatan enam hari setelah mengonsumsi jengkol. Gejalanya klasik: nyeri saat buang air kecil, nyeri pinggang, urine yang awalnya seperti pasir putih kemudian berubah merah, disertai volume urine yang menurun drastis.
Dokter mendiagnosis gagal ginjal akut akibat intoksikasi asam jengkolat, ditambah infeksi saluran kemih dan hidronefrosis bilateral. Pasien ini beruntung. Fungsi ginjalnya membaik dengan terapi sodium bikarbonat tanpa perlu hemodialisis.
Tidak semua kasus seberuntung itu. Data dari jurnal kedokteran menunjukkan angka mortalitas intoksikasi asam jengkolat berat mencapai 6 persen. Dalam satu studi terhadap 96 kasus, ditemukan empat kematian. Tiga di antaranya anak-anak. Keempat pasien meninggal di fasilitas kesehatan yang tidak memiliki alat dialisis.
Mengapa jengkol begitu berbahaya bagi ginjal? Asam jengkolat memiliki struktur mirip asam amino sistin. Dalam kondisi asam di saluran kemih, senyawa ini mengkristal. Kristal-kristal tajam itu menyumbat tubulus ginjal dan ureter. Hasilnya: nyeri hebat, darah dalam urine, hingga anuria—tidak bisa buang air kecil sama sekali.
Penanganan medis pada kasus berat meliputi alkalinisasi urin dengan sodium bikarbonat untuk melarutkan kristal. Jika gagal, pemasangan stent ureter atau dialisis menjadi pilihan terakhir. Seorang pria 45 tahun di Malaysia mengalami nasib serupa. Setelah mengonsumsi jengkol, ia mengeluh nyeri kolik pinggang kiri dan hematuria.
Serum kreatininnya melonjak dari 176 menjadi 848 μmol/L dalam tiga hari. Dokter memasang stent ureter bilateral dan mengeluarkan endapan kental dari saluran kemihnya.
Lantas berapa batas aman konsumsi jengkol? Para ahli menyarankan tidak lebih dari 75 miligram untuk wanita dan 90 miligram untuk pria per hari. Tapi angka ini sulit diterjemahkan ke dalam jumlah biji jengkol mentah. Aturan yang lebih praktis: cukup tiga sampai empat biji sekali makan, dan jangan setiap hari. Perendaman dan perebusan sebelum diolah dapat mengurangi kadar asam jengkolat secara signifikan.
Dari sisi antioksidan, penelitian masih menunjukkan hasil yang belum konklusif. Sebuah studi di Universitas Indonesia menguji efek ekstrak biji jengkol pada tikus yang diberi karbon tetraklorida (CCl₄), zat pemicu stres oksidatif. Kadar MDA plasma (penanda kerusakan sel) pada tikus yang mendapat jengkol plus CCl₄ memang lebih rendah daripada yang hanya diberi CCl₄ saja. Tapi secara statistik, perbedaannya tidak bermakna. Artinya, klaim jengkol sebagai antioksidan kuat masih perlu pembuktian lebih lanjut.
Yang sudah terbukti adalah potensi antibakterinya. Ekstrak kulit batang jengkol menunjukkan aktivitas melawan Bacillus subtilis dan Escherichia coli dalam uji laboratorium. Tentu ini masih jauh dari aplikasi klinis pada manusia.
Jadi di mana posisi jengkol di meja makan masyarakat Asia Tenggara yang sudah menyukainya selama berabad-abad? Sebagai bahan pangan, jengkol sah-sah saja dinikmati. Tapi sebagai obat herbal, klaimnya harus dibaca dengan kritis. Manfaatnya nyata secara ilmiah—terutama untuk diabetes. Namun risikonya juga nyata, bahkan mematikan bagi yang tak paham batas.







Tidak ada komentar