Salah satu tempat tujuan wisatawan JL. Braga, Kota Bandung/Foto: Pemprov JabarIndoragamnewscom, BANDUNG-Trotoar bukan untuk berdagang. Jalan harus bersih. Drainase lancar. Kabel udara tak boleh semrawut. Itulah target Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mengembalikan Kota Bandung ke masa kejayaannya sebagai kota berhiber, sebutan untuk kota yang nyaman, tertata, dan indah.

Penertiban PKL di Cicadas yang memicu protes warga adalah langkah awal dari serangkaian penataan besar-besaran.
“Kalau Bandung ingin kembali jadi kota yang seperti dulu disebut berhiber, harus bersih jalannya, trotoar, drainase dan kabel semrawut, itu target yang saya tetapkan,” ujar Dedi dikutip Minggu (24/5/2026) malam.
Penertiban PKL bukan tanpa kontroversi. Pada Senin (18/5/2026), Dedi memimpin langsung pembongkaran lapak PKL di kawasan Cicadas. Sejumlah pedagang marah dan menuntut kompensasi besar. Dedi menolak.

“Tidak ada yang mengatur pemerintah harus memberikan kompensasi atas pembongkaran bangunan atau pedagang yang menggunakan fasilitas umum,” tegasnya dalam unggahan Instagram, Kamis (21/5/2026).
“Tapi kalau saya harus memberi miliar-miliar enggak mungkin. Keuangan kita juga tidak mungkin,” ujarnya.
Dedi memahami keberatan para pedagang. Tapi baginya, trotoar adalah hak publik yang harus dikembalikan.
“Memang pedagang kaki lima itu perlu hidup, membiayai keluarga. Tetapi, trotoar bukan untuk pedagang. Trotoar untuk pejalan kaki. Hak pejalan kaki harus diberikan. Hak yang punya toko harus diberikan. Jangan sampai toko juga tidak kelihatan dari depan,” jelasnya.
Pemerintah Kota Bandung pascapembongkaran langsung bergerak memperbaiki infrastruktur. Semua drainase diperbaiki, trotoar ditinggikan agar tidak disalahgunakan sebagai lahan parkir . Penataan ini juga diselaraskan dengan rencana koridor Bus Rapid Transit (BRT).
Untuk nasib pedagang, Wali Kota Bandung Farhan menawarkan dua opsi: digitalisasi melalui e-commerce atau relokasi ke pasar resmi yang masih memiliki ruang kosong, seperti Pasar Kebon Kalapa.
Selain penataan kawasan dan penertiban PKL, Dedi juga mulai mengatur tampilan visual Kota Bandung. Pemprov Jabar telah menerbitkan surat edaran terkait pemasangan bendera, spanduk, dan baliho di sekitar gedung bersejarah maupun gedung pemerintahan.
Mantan Bupati Purwakarta itu menilai pengaturan tersebut penting apabila Bandung ingin menjadi kota modern dan memiliki citra sebagai kota dunia.
“Selain itu juga gubernur sudah buat edaran, pemasangan bendera spanduk baliho yang sekitar gedung bersejarah gedung pemerintah harus diatur kalau kota ini menjadi kota dunia,” pungkas Dedi.
Penataan berikutnya menyasar kawasan Pasteur.
“Sekarang saya lagi mendorong Pemprov Jabar sudah mengalokasikan penataan lingkungan Kota Bandung cukup besar, Pasteur sebentar lagi pemenang lelangnya diumumkan, nanti jadi kawasan yang sangat tertata,” kata Dedi.
Setelah Cicadas bersih, Pemkot Bandung juga akan menata Jalan Cikutra, lalu dilanjutkan ke dua landmark penting: seputaran Monumen Perjuangan (Monju) dan Tegallega.







Tidak ada komentar