Pantai Gandoriah Pariaman menjadi pusat wisata strategis di Sumatera Barat, ditopang akses kereta wisata langsung dan pesona budaya Festival Tabuik/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Pariwisata Kota Pariaman menemukan momentumnya di Pantai Gandoriah. Ruas pesisir berpasir landai yang menghadap langsung ke gugusan enam pulau kecil ini berkembang menjadi pusat gravitasi ekonomi baru di Sumatera Barat.

Aksesibilitas yang ditopang oleh jalur kereta api langsung dari Kota Padang membuat destinasi ini terus dipadati pengunjung, terutama setiap akhir pekan.
Pemerintah daerah menangkap peluang ini dengan mengintegrasikan transportasi publik dan ruang publik. Stasiun kereta yang berdiri persis di depan gerbang masuk pantai mempermudah mobilisasi wisatawan tanpa beban kemacetan kota.
Kehadiran rute kereta wisata Padang-Pariaman yang dioperasikan PT Kereta Api Indonesia menjadi motor utama lonjakan angka kunjungan saban tahun.

Di balik riuhnya aktivitas pelancong, nama Gandoriah menyimpan memori kolektif yang mulai luntur. Nama tersebut merujuk pada Puti Gandoriah, tokoh perempuan dalam legenda Minangkabau yang terlibat kisah cinta tragis dengan sepupunya, Anggun Nan Tongga.
“Kisah ini sudah semakin jarang diketahui masyarakat, kecuali oleh kalangan sesepuh masyarakat,” kata Kepala Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Kota Pariaman, Asnul Nazar.
Dalam mitos setempat, romansa keduanya kandas setelah mereka mengetahui status sebagai saudara sepersusuan yang terlarang untuk menikah. Narasi pilu ini sempat diabadikan menjadi nama hotel tertua di sana, sebelum akhirnya menginspirasi penamaan pantai pada era 1990-an.
Mantan Kepala Dinas Pariwisata periode 1983-1995, Murad Masri, mengungkapkan bahwa nama tersebut menyingkirkan dua kandidat nama lain saat dirumuskan. “Awalnya ada tiga opsi penamaan yaitu, Piaman Indah, Angso Duo, dan Gandoriah,” ujarnya. Nama terakhir kemudian resmi disematkan pada masa pemerintahan Bupati Zainal Bakar.
Daya tarik utama kawasan ini berada di lepas pantai, di mana Pulau Kasiak, Pulau Angso, Pulau Tangah, Pulau Ujung, Pulau Gosong, dan Pulau Bando berjejer menghias cakrawala. Wisatawan hanya membutuhkan waktu penyeberangan sekitar 20 menit untuk menjangkau gugusan pulau tersebut.
Aktivitas rekreasi seperti selancar dan renang tumbuh subur, meski fasilitas penunjangnya masih terbatas pada hari libur nasional.
Puncak kepadatan kawasan ini biasa terjadi selama ritual budaya Festival Tabuik berlangsung. Ruas pantai berganti rupa menjadi lautan manusia saat prosesi pembuangan tabuik ke laut lepas dilakukan. Dinas pariwisata setempat mencatat momentum kebudayaan tersebut sebagai penyumbang angka kunjungan tertinggi yang menggerakkan sektor jasa dan UMKM di sekitar pesisir.







Tidak ada komentar