KNKT Ungkap Sinyal Hijau di Depan Rangkaian Kereta Berhenti

3 menit membaca
Ninding Yulius Permana
Nasional, News - 24 Mei 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Sinyal keluar Stasiun Bekasi menunjukkan lampu hijau. Padahal di depan, KRL 5568A tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur, menunggu instruksi usai mobil tersangkut di perlintasan.

Tiga menit kemudian, KA Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang rangkaian itu dari jalur yang sama. Belasan orang tewas.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, memaparkan temuan awal dalam rapat kerja Komisi V DPR bersama Menteri Perhubungan.

Ia menegaskan kecelakaan ini bukan dipicu oleh taksi yang tersangkut di rel, melainkan oleh kegagalan sistem persinyalan yang lebih fundamental.

KNKT membedakan dua tabrakan dalam peristiwa ini. Tabrakan pertama terjadi saat taksi listrik Green SM tersangkut di perlintasan liar dan tertemper KRL 5181B sekitar pukul 20.48 WIB.

Tabrakan kedua terjadi sekitar pukul 20.52 WIB, saat KA Argo Bromo Anggrek yang melaju di jalur 3 menabrak KRL 5568A yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur.

Berdasarkan data black box taksi B 2864 SBX, KNKT tidak menemukan gangguan sistem pada kendaraan tersebut. Taksi melaju dengan kecepatan 15 kilometer per jam, kemudian transmisi berpindah ke posisi netral, penyebab perpindahan itu masih belum diketahui, sehingga kendaraan meluncur bebas ke atas rel.

Yang menjadi sorotan utama adalah sinyal kereta. Hasil simulasi KNKT menunjukkan, meskipun KRL 5568A sudah berhenti di Stasiun Bekasi Timur, sinyal keluar Stasiun Bekasi justru tetap menampilkan aspek hijau. Padahal, jika jalur berikutnya tidak aman, sinyal seharusnya kuning sebagai tanda waspada.

“KA Bromo Anggrek berjalan langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar J12 ber-aspek hijau,” ujar Soerjanto.

Faktor lain yang turut mempengaruhi adalah gangguan visual. Masinis KA Argo Bromo Anggrek kesulitan melihat sinyal pengulang di petak jalan karena cahaya dari rumah warga, lampu jalan, hingga pasar malam yang intensitas dan warnanya mirip dengan lampu sinyal kereta.

KNKT juga menemukan ketidakselarasan frekuensi radio: KRL 5181 menggunakan Radio Tait, KRL 5568 menggunakan Radio Sepura, sementara KA Argo menggunakan Radio Lokomotif dengan wilayah komunikasi berbeda.

Komunikasi yang berjenjang turut memperlambat respons. “PK Selatan harus memberitahu kepada Chief, Chief memberitahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya,” jelas Soerjanto.

Alih-alih melakukan pengereman maksimal—yang hanya butuh jarak 900 hingga 1.000 meter—masinis KA Argo justru mendapat instruksi untuk mengerem sedikit-sedikit sambil membunyikan klakson.

KA 5568 mengalami keterlambatan sekitar 8 menit dari jadwal semula, sementara KA Argo Bromo Anggrek melintas 3 menit lebih cepat. Masinis KA Argo sudah mulai mengerem 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan setelah mendapat informasi dari PK Timur . Namun pengereman bertahap—bukan maksimal—tidak cukup menghentikan laju kereta.

Kecelakaan ini menewaskan 16 orang. Hingga 21 Mei 2026, lima korban masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara 103 korban lainnya sudah diperbolehkan pulang . KNKT menegaskan temuan yang dipaparkan masih berupa data faktual awal.

“Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan,” pungkas Soerjanto.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 days ago
2 weeks ago
3 weeks ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!