Rawon, sup hitam khas Jawa Timur, ternyata telah tercatat dalam naskah kuno Kakawin Bhomakaya (1042-1222 M) dan menjadi favorit bangsawan keraton/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Rawon, sup berwarna hitam pekat dengan potongan daging sapi sandung lamur, tauge, kerupuk udang, dan telur asin, tidak sekadar menggugah selera.

Hidangan ini menyimpan sejarah panjang yang membentang lebih dari seribu tahun. Warna khasnya berasal dari keluak atau kepayang (Pangium edule), bumbu yang juga membedakannya dari sup lain seperti konro dan brongkos.
Pengakuan internasional pun datang. TasteAtlas, situs kuliner asal Kroasia, menganugerahi rawon sebagai sup paling enak se-Asia pada 2020 melalui penilaian 63.402 peserta dan kritikus restoran profesional.
Bahkan, dalam dua tahun berturut-turut (2022-2023), rawon masuk dalam daftar sepuluh sup daging paling populer di dunia versi situs yang sama.

Jejak tertulis rawon dapat ditelusuri hingga abad ke-18. Serat Centhini, naskah sastra Jawa yang ditulis pada 1814, menyebutkan “keluwak” sebagai salah satu bahan dalam sajian upacara perkawinan.
Sumber yang lebih tua lagi, Kakawin Bhomakaya karya Mpu Panuluh dari Kerajaan Kadiri (1042-1222 Masehi), memuat istilah rarawwan yang berarti sayur rawon. “Rarawwan (sayur rawon), enak ikaŋ rarawwan amarěg-marěgi (rawon enak dan mengenyangkan),” demikian dikutip dari laporan Pusat Kajian Makanan Tradisional UGM.
Pakar kuliner Nusantara dan Dosen Tata Boga Universitas Negeri Surabaya, Dwi Kristiastuti, menyebut rawon sebagai warisan dari zaman Kerajaan Majapahit. Hal ini berdasarkan isi Prasasti Taji yang dikeluarkan pada 823 Saka atau 901 Masehi, ditemukan di dekat Ponorogo.
Namun, penelitian terbaru yang dimuat dalam Journal of Ethnic Foods (2024) mengoreksi bahwa kata “Rawon” sendiri tidak ditemukan dalam naskah Prasasti Taji yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Prasasti tersebut hanya mencatat bahan pangan seperti beras, kerbau, ayam, ikan, dan telur.
Prof. Timbul Haryono, arkeolog UGM, menegaskan bahwa rawon telah ada sejak era Jawa Kuno. Karena menggunakan daging—bahan mahal yang umumnya hanya dikonsumsi kalangan keraton—rawon diduga berasal sebagai hidangan bangsawan.
Catatan resep rawon pertama kali muncul dalam Serat Wulangan Olah-olah Warna Warni, kumpulan resep koleksi Istana Mangkunegaran Surakarta yang dicetak pada 1926. Buku ini memuat bab Olah-olahan Cara Jawi (masakan cara Jawa) yang di dalamnya terdapat bahasan mengenai rawon.
Meski identik dengan Jawa Timur, sup hitam ini juga banyak ditemui di wilayah Surakarta. Keberadaan rawon di Solo semakin menguatkan jejaknya sebagai hidangan istana.






