Siasat Suku Tidung Merawat Kuliner Langka dari Hutan Bakau

2 menit membaca
Evan Permana
Wisata - 21 Mei 2026

Indoragamnewscom-Suku Tidung di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, berkejaran dengan kelangkaan demi mempertahankan temberungun sebagai identitas budaya mereka. Moluska jenis Telescopium telescopium yang hidup di ekosistem mangrove ini kian sulit didapat akibat menyusutnya habitat alami di pesisir.

Bagi masyarakat nelayan setempat, hidangan laut ini bukan sekadar komoditas konsumsi, melainkan simbol pengikat dalam setiap ritus adat dan pertemuan komunal.

Keterikatan emosional terhadap biota bercangkang ini membuat harganya di pasar lokal terus merangkak naik. Meskipun pasokan dari alam tidak lagi melimpah, upaya domestikasi kuliner tetap berjalan lewat penyajian wajib pada upacara pernikahan, akikah, hingga selamatan.

Titik konsentrasi pelestarian ini berpusat di wilayah Tanjung Palas, kawasan yang mayoritas penduduknya masih menggantungkan hidup sebagai nelayan tradisional.

Komunitas nelayan merasakan betul bagaimana ruang hidup satwa bakau ini perlahan tergerus zaman. Dahulu, komoditas ini dapat dikumpulkan dalam jumlah besar tanpa memerlukan waktu lama di sekitar muara sungai.

“Dulu jika mau cari satu karung mudah, berbeda seperti saat ini, tapi dipastikan sampai saat ini ada, hanya butuh proses mencarinya lagi,” kata Keket, warga Tanjung Palas yang kerap berburu keong tersebut bersama keluarganya.

Secara karakteristik, biota yang kerap disebut keong bakau ini memiliki tekstur daging yang kenyal dengan gradasi warna hitam kehijauan hingga kekuningan. Sebelum masuk ke wajan penggorengan untuk ditumis atau dipepes, proses pembersihan pasir dari dalam cangkang memerlukan ketelitian tinggi.

Pengolahan tradisional selalu dimulai dengan perebusan lama guna melunakkan serat daging sebelum dibumbui rempah khas.

Di luar nilai kulturalnya, bahan pangan pesisir ini menyimpan potensi nutrisi yang signifikan untuk mendukung ketahanan pangan lokal.

Merujuk pada riset laboratorium perikanan dan kelautan, daging moluska ini mengandung kadar protein sebesar 12,16 persen dengan kandungan lemak yang sangat rendah, yakni hanya 0,38 persen.

Karakteristik gizi ini menjadikannya sumber protein hewani yang efisien bagi masyarakat pesisir Bulungan.

Generasi tua Suku Tidung kini mulai khawatir akan hilangnya memori kolektif anak muda terhadap panganan tradisional ini. Regenerasi pengetahuan tentang cara memanen dan meracik bumbu menjadi tantangan terbesar di tengah modernisasi konsumsi.

“Masih ada sampai saat ini tradisi itu, selagi orang Tidung-Bulungan ini masih bekerja sebagai nelayan,” ujar Acil Ming, salah satu sesepuh masyarakat yang konsisten menyuarakan pentingnya perlindungan ekosistem pesisir.

Langkah taktis yang digagas warga untuk melawan kepunahan ini adalah dengan mengintegrasikan menu lokal ke dalam agenda formal pemerintah daerah. Festival memasak tahunan di Tanjung Selor dan Tanjung Palas kini mulai melibatkan menu keong bakau sebagai kategori utama.

Strategi ini diharapkan mampu menaikkan nilai tawar ekonomi sekaligus mendesak kebijakan perlindungan kawasan hutan bakau yang tersisa.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 days ago
3 weeks ago
3 weeks ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!