Curug Cibeureum, Air Terjun Bertingkat dengan Mitos Pertapa Sakti dan Lumut Endemik

2 menit membaca
Evan Permana
Wisata - 12 Mar 2026

Indoragamnewscom-Tersembunyi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Curug Cibeureum menawarkan pesona alam yang memikat. Air terjun setinggi 40-50 meter ini bukan sekadar destinasi wisata biasa, melainkan menyimpan keunikan ekologis dan legenda yang diwariskan turun-temurun.

Curug Cibeureum terletak di Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada ketinggian sekitar 1.675 meter di atas permukaan laut . Nama Cibeureum berasal dari bahasa Sunda, “Ci” yang berarti air dan “beureum” yang berarti merah.

Penamaan ini merujuk pada fenomena alam ketika lumut merah endemik (Sphagnum gedeanum) yang menutupi dinding tebing memantulkan warna kemerahan ke permukaan air saat terkena sinar matahari.

Kawasan ini memiliki tiga tingkatan air terjun yang saling berdekatan. Selain curug utama Cibeureum, terdapat dua air terjun lain yang lebih kecil, yaitu Curug Cidendeng di sebelah kanan dan Curug Cikundul yang tersembunyi di ceruk tebing paling ujung. Ketiganya memiliki ketinggian antara 40-50 meter dengan debit air yang cukup deras.

Di balik keindahannya, Curug Cibeureum menyimpan legenda yang melekat di hati masyarakat setempat. Konon, dahulu kala terdapat seorang pertapa sakti yang melakukan laku ritual atau bertapa di bawah air terjun ini.

Karena kesungguhan dan ketekunannya, sang pertapa akhirnya berubah menjadi batu. Batu besar yang berada tepat di tengah-tengah aliran air terjun dipercaya sebagai perwujudan dari pertapa tersebut. Kisah ini menambah nuansa magis yang terasa kental saat berkunjung ke tempat ini.

Untuk mencapai Curug Cibeureum, pengunjung harus menempuh perjalanan tracking sekitar 2,8 kilometer atau satu jam berjalan kaki dari gerbang masuk Taman Nasional yang berada sekitar 500 meter dari pintu utama Kebun Raya Cibodas .
Sepanjang perjalanan, para pendaki akan melewati tiga pos peristirahatan, jembatan kayu di atas Rawa Gayonggong, serta persimpangan Panyancangan Kuda yang menjadi titik penentu arah menuju curug .

Dari sisi iklim, kawasan ini memiliki curah hujan rata-rata 3.000-4.200 mm per tahun dengan bulan basah pada Oktober hingga Mei. Suhu di sekitar curug bisa mencapai 10 derajat Celsius, bahkan kurang dari itu di puncak Pangrango.

Pada bulan Desember hingga Maret, curah hujan dapat melebihi 400 mm per bulan sehingga pengunjung disarankan membawa pakaian hangat.

Selain keindahan air terjun, kawasan ini juga menjadi habitat bagi katak merah yang langka, menambah kekayaan biodiversitas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Pengunjung dapat menikmati kesegaran alam dengan berendam di kolam alami atau sekadar duduk bersantai menikmati semilir angin dan suara gemericik air yang menenangkan

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!