Kecombrang terbukti ilmiah menurunkan asam urat 30 persen, menghambat enzim xantin oksidase, dan memiliki antioksidan kategori sangat kuat. Berikut rincian riset terbarunya/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Studi membuktikan ekstrak bunga kecombrang dosis 84 mg/kgBB menurunkan kadar asam urat hingga 30 persen. Kandungan kuersetin dan kaemferol di dalamnya menghambat enzim xantin oksidase.

Bunga berwarna merah menyala ini selama ini dikenal sebagai penghilang bau amis pada masakan ikan. Tapi riset ilmiah dalam satu dekade terakhir menunjukkan kecombrang (Etlingera elatior) menyimpan potensi farmakologis yang serius.
Jurnal Medical and Health Journal (2025) merangkum temuan dari berbagai studi bahwa ekstrak kecombrang memiliki aktivitas antioksidan yang melindungi sel dari kerusakan oksidatif. Mekanismenya langsung membidik enzim COX dan lipoksigenase, sehingga mengurangi biosintesis prostaglandin dan leukotrien pemicu peradangan.
Menekan Asam Urat Hingga 30 Persen

Penelitian paling mutakhir datang dari Universitas Perintis Indonesia (2025). Ekstrak etanol bunga kecombrang diujikan pada mencit putih jantan. Dosis 84 mg per kilogram berat badan terbukti paling efektif—menurunkan kadar asam urat hingga 30 persen.
Senyawa kuersetin dan kaemferol dalam kecombrang bekerja menghambat enzim xantin oksidase. Enzim ini bertanggung jawab mengubah hipoksantin menjadi xantin, lalu xantin menjadi asam urat. Jika enzimnya diblokir, produksi asam urat pun terhambat.
Studi in silico yang terbit di Jurnal Farmasi & Sains Indonesia (2025) bahkan menemukan dua senyawa kecombrang—Aduncetin E dan Methyllinderatin—memiliki energi ikatan terhadap enzim xantin oksidase lebih rendah daripada allopurinol, obat standar asam urat.
Antikanker dengan Senyawa Baru
Kecombrang juga menyimpan molekul langka. Penelitian Malaysian Journal of Medical Sciences (2005) mengisolasi 1,7-bis(4-hydroxyphenyl)-2,4,6-heptatrienone, sebuah senyawa baru dari rimpang kecombrang yang belum pernah dilaporkan sebelumnya.
Ekstrak etil asetat kecombrang menunjukkan aktivitas sitotoksik yang sangat signifikan terhadap dua lini sel kanker: CEM-SS (sel leukemia) dengan nilai 4 µg/ml dan MCF-7 (sel kanker payudara) dengan nilai 6,25 µg/ml [4]. Dua senyawa lain, stigmast-4-en-3-one dan stigmast-4-ene-3,6-dione, juga memperlihatkan aktivitas antitumor tinggi.
Kategori Antioksidan Sangat Kuat
Kandungan antioksidan dalam bunga kecombrang tergolong sangat kuat. Penelitian Asian Medical Journal and Alternative Medicine (2023) melaporkan nilai EC50 ekstrak etanol 70 persen kecombrang mencapai 23,78 µg/ml.
Untuk memahami angka ini: kategori kekuatan antioksidan dibagi menjadi sangat kuat (IC50/EC50 kurang dari 50 ppm), kuat (50-100 ppm), sedang (100-150 ppm), dan lemah (150-200 ppm). Dengan nilai 23,78 µg/ml, kecombrang masuk kategori sangat kuat—menyaingi bahkan melampaui banyak tanaman obat yang sudah dikenal.
Semakin kecil angka EC50 atau IC50, semakin kuat aktivitas antioksidannya.
Produk Olahan dan Ketersediaan
Di Indonesia, kecombrang dikenal dengan nama daerah yang beragam: cekala di Medan, honje di Sunda, bongkot di Bali, dan kantan di Malaysia. Bagian yang biasa digunakan adalah bunga, daun, dan batang—semuanya mengandung senyawa bioaktif alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, fenolik, triterpenoid, dan steroid.
Kecombrang dapat diolah menjadi lalapan, campuran sambal, atau direbus untuk diambil airnya. Di Sulawesi Utara, bunga kecombrang menjadi bahan baku utama dabu-dabu khas Manado. Di Bali, batang mudanya dijadikan campuran lawar.
Air rebusan bunga kecombrang secara tradisional digunakan untuk menghilangkan bau badan dan bau mulut. Klaim ini memiliki dasar ilmiah: kandungan minyak atsiri dekanal dan dodekanal dalam bunga kecombrang bersifat antibakteri dan deodoran alami.






