Es doger menyimpan sejarah panjang dari impor es batu 1846 hingga akronim dorong gerobak. Ini cerita di balik kesegarannya/Foto: IstimewaIndoragamnewscom-Satu sendok es serut, seteguk santan, dan jejak sejarah yang membeku selama 180 tahun. Di balik semangkuk es doger, tersimpan cerita tentang kemewahan kaum Belanda, perdebatan bea cukai, dan perjuangan kristal es melintasi lautan menuju Nusantara.

Tahun 1846, es batu pertama kali tiba di Pelabuhan Batavia. Kepulauan ini pun gempar. Bea cukai kelabakan menyusun aturan impor untuk komoditas asing yang belum pernah mereka temui sebelumnya.
Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2 mencatat, pada era 1800-an, minuman dingin hanya dinikmati segelintir keluarga Belanda di Meester (kini Jatinegara) atau Weltevreden (kini Sawah Besar). Es batu kala itu adalah simbol kemewahan. Ia hadir untuk menyempurnakan tegukan bir di tengah panas tropis.
Di sisi lain, pemerintah Hindia Belanda menuai cuan besar. Achmad Sunjayadi dalam *Pariwisata di Hindia-Belanda (1891-1942)* mengungkap, bea cukai impor es dan minuman alkohol dari Eropa menjadi salah satu sumber pendapatan signifikan.

Publik menyebut es batu sebagai “gugusan kristal putih yang transparan dan menyebabkan tangan kaku jika dipegang.” Sebuah perusahaan, Djakarta Firms Voute en Gherin, bahkan menjual selimut wol khusus untuk menyimpan es. Kristal itu harus dibungkus rapat agar tak cepat mencair.
Satu dekade berselang, pabrik es mulai berdiri. Molenvliet (kini Jalan Gadjah Mada dan Hayam Wuruk) dan Petojo di Batavia menjadi pionir. Pada 1895, pengusaha Tionghoa Kwa Wan Hong mendirikan pabrik es di Semarang. Lombard menyebut Hong sebagai pelopor industri es Nusantara. Usahanya kemudian meluas ke Tegal, Pekalongan, Surabaya, hingga Batavia.
Lantas, bagaimana es doger lahir? Ada dua versi. Yang pertama merujuk pada pertunjukan doger—tarian ronggeng perempuan dari Dermasuci, Indramayu, Subang, dan Cirebon. Es ini kerap dijual di sela-sela gelaran, sehingga dinamai es doger.
Versi kedua lebih membumi: “doger” adalah akronim dari dorong gerobak. Para pedagang awalnya memikul dagangan. Seiring waktu, mereka beralih ke gerobak dorong. Nama “es doger” pun melekat hingga kini.
Masyarakat Betawi kemudian mengadopsi hidangan ini. Es doger tak lagi sekadar pelepas dahaga. Ia hadir dalam hajatan pernikahan dan khitanan sebagai sajian istimewa.
Resepnya sederhana: es serut, santan, gula merah cair, tape, dan kelapa muda. Kini, kolang-kaling, pacar cina, susu kental manis, hingga bubur sumsum turut memperkaya tekstur dan rasa.
Harga satu porsi es doger di gerobak pinggir jalan kini dibanderol mulai Rp5.000 hingga Rp10.000 . Jauh dari nilai eksklusif kristal es 1846. Tapi kesegarannya—dan cerita di baliknya—tak pernah luntur.






