Hutan Mati Papandayan di Garut menyimpan sejarah letusan dahsyat 1772 dan 2002/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Pohon-pohon itu berdiri kering. Rantingnya menjulang tanpa daun, batangnya menghitam atau memutih karena belerang. Tanah di bawahnya berwarna pucat, seperti abu. Orang menyebut kawasan ini Hutan Mati.

Letaknya di Gunung Papandayan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat . Gunung ini setinggi 2.665 meter di atas permukaan laut. Para pendaki yang hendak menuju Puncak Tegal Alun biasanya melewati area ini. Dan hampir semuanya berhenti. Bukan untuk beristirahat, tapi untuk mengabadikan pemandangan yang tak ditemukan di gunung lain.
Tapi di balik eksotismenya, ada sejarah kelam. Hutan Mati terbentuk akibat letusan dahsyat yang terjadi pada 11-12 Agustus 1772. Catatan Belanda menyebut letusan itu berlangsung beberapa kali dalam waktu lima menit. Disusul runtuhan bagian tubuh gunung yang melanda kawasan seluas 250 kilometer persegi.
Empat puluh desa terkubur. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat 2.951 jiwa menjadi korban, tercatat sebagai runtuhan gunung api terbesar dalam sejarah Indonesia. Beberapa sumber lain menyebut angka korban mendekati 3.000 orang.

Penulis asing Lee Davis kemudian menggambarkan dahsyatnya peristiwa itu dalam bukunya, Natural Disaster.
Namun pemandangan yang terlihat sekarang—puluhan hingga ratusan pohon Cantigi (Vaccinium varingiaefolium) yang mati dan mengering—bukan sepenuhnya hasil letusan 1772. Berdasarkan catatan Traveloka, area hutan mati yang dikenal wisatawan saat ini justru terjadi akibat letusan susulan pada 13-20 November 2002 . Aktivitas vulkanis itu memicu longsor di atas Kawah Nangklak, yang kemudian membakar hutan Cantigi.
“Sisa-sisa hangusnya kawasan pepohonan inilah yang membentuk Hutan Mati,” demikian penjelasan dalam publikasi tersebut.
Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat letusan lain terjadi pada 1923 dan 1942. Status Gunung Papandayan sempat siaga hingga 2012 . Bahkan pada Januari 2026, longsor kembali memutus akses jalur pendakian antara pos 7 menuju Gooberhut.
Tapi itu tak menghentikan wisatawan. Setiap akhir pekan, puluhan pendaki memadati jalur menuju Hutan Mati. Pemandangan yang ditawarkan memang unik: pohon-pohon kering berdiri kontras di atas hamparan tanah putih, dengan latar asap belerang dari kawah aktif.
Dari area parkir Camp David, pengunjung berjalan kaki sekitar 30-45 menit . Melewati Kawah Papandayan yang masih mengeluarkan kepulan asap. Bau menyengat sudah tercium sejak jauh. Masker menjadi barang wajib.
Di dalam kawasan, sebagian pohon sudah mati ratusan tahun tapi tak pernah rubuh. “Batangnya keras seperti batu,” kata salah satu pemandu lokal. “Mungkin karena kandungan belerang yang mengawetkannya.”
Para fotografer menjadikan Hutan Mati sebagai surga. Waktu terbaik berburu foto adalah pagi atau sore hari. Kabut tipis yang turun kadang membuat suasana menjadi mistis. Sinar matahari yang menembus celah ranting menciptakan bayangan dramatis.
Dari Hutan Mati, pendaki bisa melanjutkan perjalanan ke Pondok Saladah—area perkemahan utama—lalu ke Tegal Alun, hamparan luas bunga Edelweis di puncak Papandayan.
Tapi ada peringatan: jangan bermalam di Hutan Mati. “Area ini tidak bisa dijadikan tempat menginap karena terlalu berbahaya. Aroma belerang masih sangat menyengat,” tulis Traveloka dalam panduannya.
Pengunjung yang nekat mendekati tepi kawah juga harus waspada. Tanah di sekitar area itu rapuh. Badan Geologi mencatat adanya zona alterasi hidrotermal yang melemahkan kekuatan batuan.
Tiket masuk ke Taman Wisata Alam Gunung Papandayan dikenakan Rp20.000 pada hari biasa dan Rp30.000 pada akhir pekan . Kendaraan roda empat bisa diparkir di area bawah. Perjalanan dari pusat Kota Garut memakan waktu sekitar 1,5-2 jam.
Untuk mencapai Hutan Mati, tidak diperlukan keahlian teknis mendaki. Treknya ramah pemula. Sebagian jalur sudah dibuat berundak dari batu.
Tapi yang tak kalah penting: jangan memanjat pohon mati. Strukturnya rapuh. Bisa rubuh kapan saja. “Jaga kebersihan, jangan buang sampah sembarangan,” tulis Gira Nusa dalam panduan etika pengunjung.
Hutan Mati adalah bukti bahwa kehancuran pun bisa melahirkan keindahan. Tapi juga pengingat: alam tak pernah benar-benar mati. Ia hanya berubah bentuk. Dan kadang, perubahan itu menyisakan cerita yang tak habis untuk diceritakan.






