TRENDING

Kopi dan Suasana Hati, Antara Dorongan Sesaat dan Risiko Kecemasan

3 menit membaca
Padilah Rahayu
Ragam - 29 Mar 2026

Indoragamnewscom-Di hari-hari ketika badan dan kepala sama-sama lelah, kopi kerap menjadi penyelamat. Efeknya terasa seperti tombol reset: otak lebih melek, fokus naik, suasana hati terasa lebih ringan.

Sejumlah studi besar memang menemukan kaitan antara kebiasaan minum kopi dengan risiko depresi yang lebih rendah. Namun para ahli menegaskan, kopi bukan obat antidepresan.

Bahkan jika dikonsumsi berlebihan, minuman ini justru bisa memicu kecemasan dan memperburuk kondisi mental. Lantas, apa sebenarnya manfaat kopi bagi suasana hati? Dan bagaimana cara menikmatinya tanpa efek samping?

Menurut psikiater Ma-Li Wong dari SUNY Upstate Medical University, hubungan antara konsumsi kopi dan berkurangnya gejala depresi tergolong lemah. Manfaatnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan olahraga atau obat antidepresan yang telah terbukti secara ilmiah. Hingga kini belum ada bukti bahwa kopi bisa menjadi pengobatan depresi. “Itu bukan berarti kopi bisa mencegah atau mengobati depresi,” ujar Wong dikutip dari The New York Times .

Kafein memang berperan sebagai stimulan. Zat ini meningkatkan aktivitas dopamin di otak, sehingga membuat seseorang merasa lebih berenergi, lebih waspada, dan lebih konsentrasi, kata psikiater Ramin Mojtabai dari Tulane University. Efek inilah yang diduga memicu peningkatan suasana hati dalam jangka pendek, terutama pada beberapa jam pertama setelah bangun tidur.

Laura Juliano, ketua psikologi di American University, menjelaskan bahwa kafein paling terasa manfaatnya ketika seseorang sedang berada dalam kondisi kekurangan. Kondisi itu bisa berupa kurang tidur, kelelahan akibat pekerjaan berat, atau terlambat minum kopi rutin. “Tegukan pertama di pagi hari biasanya terasa paling kuat karena pada saat itu kondisi tubuh sedang paling menurun,” ujarnya .

Namun otak juga menyesuaikan terhadap konsumsi kafein secara rutin. Efeknya berkurang seiring waktu. Juliano menambahkan bahwa pada peminum kopi rutin, perbaikan suasana hati setelah minum kopi sering kali hanya berasal dari meredanya gejala putus kafein, seperti lelah dan sakit kepala. Kopi harian umumnya sekadar mengembalikan kondisi ke tingkat normal, meski tetap memberi rasa puas. Sebaliknya, peningkatan suasana hati yang nyata kemungkinan besar dialami oleh mereka yang jarang minum kopi, karena toleransi terhadap kafein belum terbentuk.

Setiap orang memetabolisme kafein secara berbeda, tetapi satu hingga dua cangkir umumnya dianggap paling ideal untuk memperbaiki suasana hati, kata Mojtabai. Terlalu sedikit mungkin tidak terasa, sementara terlalu banyak justru dapat memicu kegelisahan dan kecemasan. Bagi sebagian orang, bahkan asupan kopi yang kecil pun dapat memperburuk kondisi mental, terutama jika mereka cenderung mudah cemas atau minum kopi terlalu sore sehingga mengganggu kualitas tidur.

Para ahli menyarankan untuk menghindari kafein enam hingga 12 jam sebelum waktu tidur. Jika seseorang sering merasa cemas, mengurangi kopi juga bisa menjadi pilihan. Anak di bawah usia 12 tahun sebaiknya tidak mengonsumsi kopi.

Remaja usia 12 hingga 18 tahun perlu membatasi asupannya. Orang yang mengonsumsi obat tertentu, termasuk stimulan dan beberapa obat psikiatri, juga disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum rutin minum kopi, karena kombinasinya dapat meningkatkan risiko efek samping.

Jika seseorang mengalami gejala depresi, para ahli sepakat untuk tetap mencari bantuan medis. “Kopi atau produk berkafein lain bukan pengobatan yang efektif,” kata Honglei Chen, epidemiolog di Michigan State University.

Namun bagi mereka yang rutin minum satu hingga dua cangkir kopi per hari tanpa keluhan kesehatan, kebiasaan tersebut tidak perlu diubah, kata Chen. Banyak orang menikmati kopi bukan hanya karena kafeinnya, tetapi juga karena rasa dan ritualnya. “Jika itu cocok untuk kamu, tidak ada masalah,” ujarnya.

Sebaliknya, jika seseorang tidak terbiasa minum kopi, tidak perlu mulai hanya demi memperbaiki suasana hati. Wong menyebut efeknya relatif kecil jika dibandingkan dengan strategi lain seperti tidur yang cukup, lebih banyak bersosialisasi, dan rutin bergerak. “Jika tujuan kamu adalah memperbaiki suasana hati, olahraga tetap menjadi pilihan yang lebih baik,” kata Wong.

Bagikan Disalin

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
4 weeks ago
1 month ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!