Dua pria bertelanjang dada sedang bertanding Ojung dengan rotan di arena Pantai Galung, Sumenep, disaksikan ribuan penonton/Foto: Humas Pemkab SumenepIndoragamnewscom-Dua pria bertelanjang dada berdiri saling berhadapan. Rotan sepanjang satu meter menggenggam di tangan masing-masing. Bukan untuk melukai, melainkan ritual turun-temurun warga Sumenep memohon hujan.

Kini, Ojung naik kelas: masuk Kalender Event 2026 dan diarahkan menjadi ikon wisata budaya kebanggaan Madura.
Pemerintah Kabupaten Sumenep menggelar Festival Ojung 2026 di Pantai Galung, Desa Juruan Daja, Kecamatan Batuputih, Minggu (12/4/2026).
Ribuan warga memadati area pantai sejak siang. Di tengah terik dan debur ombak, arena Ojung menjadi magnet utama.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep Agus Dwi Saputra menegaskan festival ini bukan sekadar tontonan.
“Festival Ojung bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan yang sarat nilai kebersamaan, keberanian, dan sportivitas dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya di sela kegiatan.
Ojung merupakan tradisi saling pukul badan menggunakan rotan yang dimainkan dua orang secara bergantian. Konon, ritual ini sudah ada sejak masa pemerintahan Aria Wiraraja, penguasa pertama Sumenep.
Masyarakat rutin mengadakannya untuk tolak bala sekaligus ritual meminta turunnya hujan di musim kemarau.
Seiring zaman, Ojung berkembang. Pemerintah daerah mendorongnya naik kelas—bukan lagi sekadar ritual tahunan, melainkan “brand” budaya yang diproyeksikan mampu mengangkat wajah pariwisata Sumenep. Festival Ojung pun masuk dalam Kalender Event 2026.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Sumenep Faruq Hanafi menyebut Ojung sedang diarahkan menjadi bagian dari paket wisata unggulan daerah.
“Kami ingin ada kesinambungan. Tidak berhenti di festival, tapi masuk ke kalender wisata, bahkan menjadi daya tarik bagi wisatawan luar daerah,” katanya.
Pemerintah daerah juga berinovasi dalam pengemasan festival. Mulai dari penataan lokasi, promosi digital, hingga kolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif. Sebanyak 14 desa se-Kecamatan Batuputih ikut memeriahkan kegiatan dengan melibatkan UMKM setiap desa.
“Esensi budaya tetap dijaga, sementara kemasan disesuaikan agar lebih menarik dan relevan,” jelas Agus Dwi Saputra.
Namun, di balik ambisi besar itu, persoalan klasik mencuat: minimnya regenerasi pelaku Ojung. Tidak semua generasi muda tertarik terlibat dalam tradisi yang dikenal keras dan berisiko ini.
“Kalau tidak ada regenerasi, maka semua ini hanya akan jadi seremonial. Kita butuh anak muda yang mau belajar dan menjaga tradisi ini,” tegas Agus.
Pemerintah daerah menyadari dilema transformasi Ojung dari ritual sakral menjadi tontonan publik.
Karena itu, pendekatan yang diambil adalah menjaga substansi tradisi, sambil memperkuat kemasan agar tetap relevan di era modern.
“Kami tidak mengubah nilai dasarnya. Yang kami benahi adalah cara penyajiannya,” tandas Agus.







Tidak ada komentar