Daniel Johan: Lonjakan Harga Plastik Jadi Momen Ubah Pola Konsumsi

3 menit membaca
Ninding Yulius Permana
News, Politik - 18 Apr 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan mengimbau masyarakat menyikapi lonjakan harga plastik akibat dinamika global sebagai momentum perubahan pola konsumsi.

Ia mendorong kebiasaan membawa kantong belanja sendiri serta penguatan bank sampah sebagai bagian dari transisi menuju ekonomi sirkular.

Melalui keterangan tertulis di Senayan, Jakarta, Daniel mengakui plastik telah menjadi kebutuhan primer masyarakat sehari-hari. Ia menyebut kenaikan harga bahan tersebut berdampak besar pada sektor domestik, termasuk perdagangan, pelaku usaha kecil, hingga konsumen.

“Harus diakui plastik sudah menjadi kebutuhan premier masyarakat sehari-harinya. Dan saat harga plastik melonjak, sektor domestik pun menjadi ikut terdampak besar,” kata Daniel dikutip Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, lonjakan harga plastik dipicu gangguan rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono sebelumnya mengungkapkan harga bahan baku plastik melonjak dari sekitar US$ 1.000 per metrik ton menjadi US$ 1.800, kenaikan hampir 80 persen . Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor mencapai 60 persen.

“Situasi ini tidak cukup dibaca hanya sebagai kenaikan biaya produksi atau beban tambahan bagi pelaku usaha. Melainkan sebagai sinyal bahwa struktur ketergantungan nasional terhadap material berbasis fosil masih sangat tinggi dan rentan terhadap perubahan eksternal,” tutur Daniel.

Daniel menilai kondisi ini dapat menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai dan memperkuat penggunaan material alternatif yang lebih berkelanjutan. Ia mendorong perubahan perilaku masyarakat dimulai dari hal sederhana.

“Bisa dimulai dengan masyarakat terbiasa membawa kantong belanja yang bisa digunakan hingga berkali-kali. Atau saat membeli makanan, bawa wadah yang bisa dicuci dan digunakan kembali,” imbaunya.

Selain itu, Daniel menekankan pentingnya penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah plastik, termasuk pengembangan bank sampah di tingkat masyarakat. Kementerian Lingkungan Hidup menargetkan penambahan puluhan ribu bank sampah baru hingga 2029 guna meningkatkan pengelolaan limbah rumah tangga sekaligus memberikan manfaat ekonomi.

“Bank sampah tidak lagi cukup diposisikan sebagai program lingkungan semata, tetapi harus dibaca sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi bahan baku sekunder,” jelas Daniel.

Ia menambahkan, penguatan sistem daur ulang dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sampah. Data Bappenas menunjukkan Indonesia menghasilkan 5,5 juta ton sampah plastik per tahun, namun baru 22 persen yang berhasil dikumpulkan untuk didaur ulang.

“Jika plastik bekas dapat kembali masuk ke rantai produksi secara lebih besar, maka ketergantungan terhadap bahan baku primer dapat ditekan. Dan ini dapat menjadi perluasan insentif bagi bahan pengganti plastik yang dapat diproduksi dalam negeri,” ujarnya .

Daniel juga mendorong dukungan kebijakan dan sistem dari pemerintah agar transisi menuju penggunaan kemasan ramah lingkungan dapat berjalan optimal. Ia menekankan bahwa masyarakat tidak cukup hanya diminta beradaptasi.

“Sebab masyarakat tidak cukup hanya diminta beradaptasi, tetapi perlu kepastian bahwa transformasi menuju kemasan ramah lingkungan memiliki dukungan regulasi, kepastian pasar, dan insentif investasi,” tutupnya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!