Menkeu Purbaya Bantah Narasi Resesi, Rilis Data Ekonomi yang Bicara Sebaliknya

4 menit membaca
Nandang Permana
Nasional, News - 14 Mar 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah keras narasi negatif yang beredar di media sosial tentang kondisi ekonomi Indonesia yang disebut-sebut memasuki resesi.

Dengan merujuk pada sederet indikator makroekonomi terkini, ia menegaskan fundamental ekonomi nasional justru berada dalam fase ekspansi yang kuat dan menunjukkan kinerja positif dari sisi produksi maupun konsumsi masyarakat.

“Kalau kita lihat dari sisi supply, ekonomi kita dalam keadaan yang amat baik. PMI bulan Februari itu levelnya 53,8, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Artinya ada perbaikan yang kuat di sektor manufaktur,” ujar Menkeu dikutip Sabtu (14/3/2026).

Data S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) memang menunjukkan level 53,8 pada Februari 2026, angka tertinggi sejak Maret 2024. Ekspansi ini didorong oleh peningkatan tajam dalam pesanan baru dan akselerasi produksi, dengan pertumbuhan lapangan kerja mencapai level paling signifikan sejak November 2025.

Purbaya juga menyoroti angka inflasi Februari yang secara headline tercatat 4,64 persen. Namun menurutnya, angka tersebut perlu dilihat secara lebih cermat karena dipengaruhi faktor teknis terkait subsidi listrik pada awal tahun sebelumnya.

“Kalau kita hilangkan efek subsidi listrik pada Januari–Februari tahun lalu, sebetulnya inflasi kita sekitar 2,59 persen. Artinya ekonomi kita masih aman untuk tumbuh lebih cepat dan belum dalam kondisi overheating,” lanjutnya.

Data Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulanan Februari 2026 sebesar 0,68 persen (mtm), berbalik dari deflasi Januari. Komoditas utama pendorong inflasi adalah makanan, minuman, dan tembakau, terutama daging ayam ras dan cabai.

Ia menambahkan sejumlah indikator ekonomi lainnya juga menunjukkan tren positif. Mandiri Spending Index (MSI) mencapai 360,7 dan terus menunjukkan tren peningkatan.

Laporan MSI per 15 Februari 2026 mengonfirmasi belanja masyarakat menguat 3 persen dari pekan sebelumnya, didorong belanja esensial di supermarket yang tumbuh 5,7 persen dan belanja restoran 3 persen seiring meningkatnya kebutuhan pokok menjelang Ramadan.

Selain itu, sektor otomotif juga menunjukkan pemulihan signifikan. Penjualan mobil pada Februari 2026 tercatat tumbuh 12,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan wholesales mencapai 81.159 unit, naik 22,1 persen dibanding Januari 2026. Lonjakan ini didorong penyelenggaraan IIMS 2026 dan momentum menjelang Lebaran . “Ini menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat semakin meningkat,” ungkap Menkeu.

Indikator lain yang memperkuat optimisme ekonomi adalah penjualan ritel yang tumbuh hingga 6,9 persen, serta indeks kepercayaan konsumen yang berada di level 125,2, mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat.

Purbaya menilai berbagai indikator tersebut menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia masih kuat, meskipun muncul sejumlah narasi pesimistis di ruang publik.

“Banyak yang bilang ekonomi kita resesi, bahkan di media sosial. Padahal kalau kita lihat datanya, PMI naik, penjualan mobil naik, penjualan ritel naik, kepercayaan konsumen tinggi,” jelasnya.

Dari sisi eksternal, ia juga menegaskan stabilitas sektor keuangan tetap terjaga. Nilai tukar rupiah disebut hanya terdepresiasi sekitar 0,3 persen saat terjadi gejolak global, menunjukkan ketahanan ekonomi domestik.

Purbaya sebelumnya mengungkapkan depresiasi rupiah sejauh ini masih lebih kecil dibandingkan mata uang negara tetangga seperti Ringgit Malaysia dan Baht Thailand.

Selain itu, indikator risiko negara seperti Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun juga relatif stabil. Meskipun sempat naik ke 75,31 bps pada akhir Januari 2026, level tersebut masih relatif terjaga di tengah gejolak global. Aliran modal asing juga masih menunjukkan tren positif.

“Investor yang benar-benar menaruh uangnya masih percaya dengan fundamental ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan pemerintah terus melakukan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Data menunjukkan base money (M0) pada Februari 2026 tumbuh 14,2 persen, sementara kredit perbankan telah meningkat sekitar 10 persen pada Januari dan diperkirakan terus menguat.

Bank Indonesia melaporkan pertumbuhan uang primer (M0) adjusted mencapai 18,3 persen yoy pada Februari 2026, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Penyaluran kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh 9,96 persen yoy, ditopang peningkatan kredit investasi yang melesat 22,38 persen.

“Dengan koordinasi fiskal dan moneter yang baik, kita menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap kuat,” tambahnya.

Purbaya juga menekankan pengalaman Indonesia dalam menghadapi berbagai gejolak global, termasuk lonjakan harga minyak dunia, menunjukkan ekonomi nasional mampu bertahan melalui kebijakan yang tepat.

“Selama ini kita punya pengalaman mengendalikan dampak gejolak global, termasuk ketika harga minyak naik tinggi. Jadi kita tidak perlu takut,” tuturnya.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!