BNN Gandeng BRIN, Ancaman NPS Jadi Fokus Utama Kolaborasi Riset

3 menit membaca
Nandang Permana
Nasional, News - 18 Apr 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Badan Narkotika Nasional bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional memperkuat kolaborasi strategis di bidang riset dan teknologi untuk menghadapi dinamika ancaman narkotika yang kian kompleks, terutama maraknya zat psikoaktif baru (NPS).

Pertemuan antara Kepala BNN Suyudi Ario Seto dan Kepala BRIN Arif Satria berlangsung di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat. Kedua lembaga membahas perluasan kerja sama lintas sektor riset, mencakup bidang kesehatan, elektronika, hingga informatika.

Arif Satria menyatakan kesiapan BRIN untuk mendukung tugas BNN melalui pemanfaatan infrastruktur dan sumber daya riset yang dimiliki. “Kami siap menopang BNN melalui kajian teknis yang lebih spesifik, termasuk pemantauan kandungan senyawa pada tanaman serta pengembangan instrumen deteksi dini terhadap senyawa narkotika baru,” ujarnya dikutip Sabtu (18/7/2026).

Ia menambahkan bahwa BRIN memiliki fasilitas dan peralatan riset mumpuni di kawasan Asia Tenggara yang dapat dioptimalkan untuk mempercepat proses identifikasi dan analisis senyawa narkotika secara lebih akurat dan efisien.

Salah satu fokus utama kerja sama ini adalah penguatan ketahanan kesehatan nasional, khususnya upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku obat. Indonesia diketahui memiliki potensi keanekaragaman hayati besar dengan lebih dari 31.000 spesies tumbuhan yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber bahan baku farmasi.

Namun, pemanfaatan potensi tersebut memerlukan pengawasan ketat guna mencegah penyalahgunaan, terutama terhadap tanaman yang mengandung senyawa narkotika. Riset yang komprehensif dan terukur menjadi kunci dalam memastikan pemanfaatannya tetap berada dalam koridor kepentingan medis dan ilmu pengetahuan.

Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan momentum penting untuk mengakselerasi sinergi riset, khususnya dalam merespons kemunculan NPS yang terus berkembang.

“Perkembangan zat narkotika baru sangat cepat. Secara global telah teridentifikasi lebih dari 1.300 jenis NPS, sementara di Indonesia sendiri telah terindikasi sebanyak 115 jenis,” kata dia.

Data Pusat Laboratorium Narkotika BNN menunjukkan bahwa pada periode 2023-2024 terjadi peningkatan signifikan jumlah sampel NPS yang teridentifikasi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Golongan synthetic cannabinoids menjadi yang paling banyak ditemukan.

BNN sendiri telah membangun sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) melalui platform website untuk memberikan informasi kepada publik tentang kemunculan NPS dan tren narkotika jenis baru di tingkat nasional.

Suyudi sebelumnya juga mengungkapkan fakta mengejutkan dari hasil uji laboratorium terhadap 341 sampel cairan vape, di mana ditemukan 11 sampel mengandung sintetik cannabinoid, satu sampel mengandung methamphetamine, dan 23 sampel terbukti mengandung etomidate, obat bius yang kini telah masuk dalam golongan narkotika berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025.

Melalui kerja sama ini, proses sertifikasi bahan baku lokal untuk kebutuhan medis dan industri domestik diharapkan berjalan lebih optimal dengan pengawalan dari BNN, BRIN, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sinergi ini juga diharapkan mampu menjamin aspek keamanan, mutu, dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!