TRENDING

Ekonomi Kuartal I Ditarget Tumbuh 5,7 Persen, Menkeu: Daya Beli Ramadan Masih Kuat

3 menit membaca
Fazril Maulana
Nasional, News - 21 Mar 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mampu mencapai kisaran 5,6 hingga 5,7 persen di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinan itu didasarkan pada daya beli masyarakat yang tetap terjaga selama periode Ramadan dan jelang Idulfitri.

“Kalau angka terakhir, pertumbuhan ekonomi bisa 5,6 sampai 5,7 persen. Itu sudah lumayan bagus,” ujar Purbaya usai melaksanakan salat Idulfitri di Masjid Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Menkeu menilai proyeksi tersebut tergolong positif mengingat perekonomian global saat ini tengah terdampak dinamika konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Meski demikian, ia meyakini dampak gejolak global belum terasa signifikan terhadap perekonomian domestik karena telah diantisipasi oleh pemerintah.

“Dampak global ke sini masih belum terasa karena sudah di-absorb oleh pemerintah. Kami menjaga betul supaya masyarakat bisa beraktivitas dengan normal dalam keadaan sekarang,” katanya.

Optimisme Purbaya diperkuat hasil peninjauan langsung ke sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Tanah Abang di Jakarta dan Pasar Beringharjo di Yogyakarta. Aktivitas jual beli terpantau ramai, bahkan ia sendiri mengaku membeli baju Lebaran dari pasar tradisional tersebut.

“Kalau saya lihat situasinya ramai seperti itu, daya beli masih cukup,” ujarnya.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, sebelumnya menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga selama Ramadan dan Lebaran menyumbang sekitar 15-17 persen terhadap konsumsi tahunan. Momentum ini menjadi katalis penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto turut menyatakan keyakinan serupa. Ia menilai target pertumbuhan 5,5 persen pada kuartal I 2026 dapat tercapai berkat konsumsi masyarakat yang meningkat selama Ramadan dan Lebaran.

“Kelihatannya target 5,5 persen bisa dicapai dari geliat selama Ramadhan kemarin,” ujar Airlangga usai Salat Idulfitri di Jakarta, Sabtu.

Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan. Langkah tersebut mencakup dukungan terhadap sektor swasta, menjaga daya beli masyarakat, mengelola harga bahan bakar minyak bersubsidi dari tekanan harga minyak global, hingga mendorong percepatan realisasi belanja pemerintah.

Selain itu, pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi pada kuartal I 2026 berupa insentif transportasi untuk mudik Lebaran. Diskon tiket kereta api dan angkutan laut sebesar 30 persen, jasa penyeberangan 100 persen, serta potongan harga tiket pesawat 17-18 persen dengan estimasi anggaran mencapai Rp911,16 miliar.

Bantuan pangan senilai Rp12 triliun juga disalurkan kepada 35,04 juta keluarga penerima manfaat berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng untuk periode Februari-Maret 2026. Pemerintah juga menggelontorkan Rp55 triliun untuk tunjangan hari raya bagi sekitar 10,5 juta aparatur negara.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menambahkan bahwa konsumsi rumah tangga meningkat didukung oleh permintaan terkait perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional serta perbaikan penghasilan di beberapa kelompok pendapatan yang bersumber dari pemberian THR, belanja sosial pemerintah, dan berbagai insentif.

Meski optimistis, Purbaya mengakui perekonomian nasional berpotensi melambat bila ketegangan geopolitik terus meningkat. Pemerintah akan terus memperkuat permintaan domestik sebagai penopang utama ekonomi.

“Walaupun global begitu, tapi permintaan domestik masih kencang. Mungkin ekonomi akan melambat kalau konflik naik terus. Tapi saya akan jaga permintaan domestik,” tegasnya.

Dari sisi fiskal, Purbaya menegaskan pemerintah saat ini mengalami peningkatan penerimaan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak yang ikut terdampak kenaikan harga global. “Jangan lupa di sisi income kita juga naik. Income batubara itu kan naik. Minyak juga naik. Jadi kalau kita lihat, level USD 100 per barel kita masih aman,” jelasnya.

Secara keseluruhan, pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Hal ini tercermin dari berbagai indikator ekonomi makro serta tinjauan langsung selama Ramadan yang menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berlangsung stabil.

Bagikan Disalin

IKLAN

IKLAN

IKLAN

Trending Harian

INSTAGRAM

6 days ago
3 weeks ago
4 weeks ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!