Buleleng Jadi Panggung Diplomasi Budaya Dunia

2 menit membaca
Nandang Permana
Daerah, News - 17 Feb 2026

Indoragamnewscom, BULELENG-Kabupaten Buleleng kembali mengukuhkan posisinya sebagai pusat diplomasi seni internasional setelah dipastikan menjadi tuan rumah Buleleng International Rhythm Festival atau BIRF untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Kepercayaan yang diberikan oleh UNESCO bersama International Organization of Folk Art atau IOV Indonesia ini menjadi sinyal kuat atas konsistensi Bali Utara dalam merawat warisan tradisi di tengah arus modernisasi.

Gelaran yang dijadwalkan berlangsung pada 10 hingga 15 Maret 2026 tersebut akan mempertemukan seniman, budayawan, hingga akademisi dari enam negara untuk saling bertukar pengetahuan melalui ritme tradisional masing-masing.

Direktur IOV UNESCO Indonesia Wilayah Bali, I Gusti Ngurah Eka Prasetya, menegaskan bahwa penunjukan ini bukan sekadar perayaan rutin tahunan bagi masyarakat lokal.

“Ini bukan sekadar festival.Ini adalah bentuk kepercayaan dunia internasional kepada Buleleng dan Bali Utara yang konsisten menjaga, merawat, sekaligus mempromosikan seni tradisi,” ujar Eka dalam keterangan resmi, Selasa (17/2/2026).

Momentum ini dimanfaatkan sebagai instrumen diplomasi budaya yang melibatkan kolaborasi lintas sektor antara Yayasan Sanggar Seni Santi Budaya, Pemerintah Kabupaten Buleleng, hingga pihak Puri Kangenan Buleleng.

Aspek edukasi turut diperkuat melalui keterlibatan Universitas Pendidikan Ganesha dalam penyelenggaraan program riset dan keterlibatan generasi muda. Selain diskusi akademis, festival ini menyediakan ruang interaksi langsung melalui lokakarya budaya di sejumlah sekolah dan kampus di Buleleng.

Kehadiran delegasi internasional tersebut diharapkan mampu memberikan dampak nyata pada pertukaran nilai budaya antara praktisi seni global dan pelajar lokal.

Ruang partisipasi ini juga menjadi cara bagi Bali Utara untuk menyuarakan identitas budayanya di kancah internasional secara lebih terstruktur.

Dampak ekonomi dari perhelatan ini mulai dirasakan seiring kedatangan sejumlah delegasi luar negeri yang mengunjungi berbagai destinasi wisata di Bali sebelum acara inti dimulai.

Desa Wisata Panji dan Desa Wisata Kalibukbuk turut diintegrasikan ke dalam ekosistem festival untuk memperkenalkan potensi lokal secara luas.
Partisipasi pelaku UMKM yang memproduksi olahan sorgum serta produk anyaman bambu menjadi bagian dari strategi untuk menyinergikan kegiatan budaya dengan penguatan ekonomi kerakyatan.

Dengan demikian, festival ini tidak hanya berhenti pada selebrasi seni, tetapi juga menjadi penggerak produktivitas ekonomi di wilayah Bali Utara.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Buleleng berupaya membuktikan bahwa kekuatan Bali tidak hanya bertumpu pada keindahan alam, melainkan pada keberlanjutan akar budayanya.

Penyelenggaraan yang konsisten diharapkan mampu mempertahankan identitas Bali Utara sebagai titik temu penting bagi para pegiat seni dunia.

Fokus pada ritme tradisional sebagai tema besar festival menjadi pintu masuk bagi masyarakat global untuk memahami lebih dalam kekayaan intelektual dan spiritual yang hidup di tengah masyarakat Buleleng.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!