Wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Cibeusi dapat belajar bertani langsung dari warga, mulai dari menanam padi hingga membajak sawah dengan kerbau/Foto: Disparbud Jabar
Indoragamnewscom-Desa Wisata Cibeusi di Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, masuk dalam jajaran 75 Desa Wisata Terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023.

Terletak di ketinggian 818 meter di atas permukaan laut dengan 60 persen wilayahnya masih tertutup hutan , desa ini menawarkan kombinasi curug-curug eksotis, tradisi pertanian unik, dan keramahan penduduk yang kental.
Nama Cibeusi mungkin masih asing di telinga sebagian besar wisatawan. Namun desa yang berjarak sekitar 44 kilometer dari pusat Kota Bandung ini menyimpan pesona yang tak kalah dengan destinasi populer di Subang lainnya.
Keunggulan utama Cibeusi terletak pada air terjunnya. Curug Cibareubeuy menjadi primadona dengan ketinggian mencapai 70 hingga 90 meter.

Untuk mencapainya, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 45 menit hingga satu jam melewati pematang sawah dan bukit, sebuah perjalanan yang dihiasi pemandangan hamparan sawah berundak, batu-batu raksasa, dan sungai-sungai berair jernih.
Di tengah perjalanan, pengunjung akan disambut oleh “Kampung Senyum”—sekelompok saung bambu beratap ijuk yang didirikan oleh warga setempat. Dari sini, Curug Cibareubeuy yang airnya mengalir berkelok mengikuti kontur tebing mulai terlihat.
Selain Cibareubeuy, terdapat Curug Ciangin yang menawarkan pengalaman berbeda. Air terjun setinggi sembilan meter ini membentuk kolam alami sedalam lima meter di bawahnya. Yang membuatnya istimewa: pengunjung dapat melompat dari atas tebing setinggi tujuh meter ke dalam kolam, sebuah aktivitas yang menjadi daya tarik utama.
Nama “Ciangin” sendiri berasal dari hembusan angin yang cukup kencang di sekitar air terjun.
Curug Nangka Bengkok dan Curug Pandawa melengkapi pilihan destinasi air terjun di desa ini.
Kearifan Lokal dan Edukasi Pertanian
Cibeusi tidak hanya mengandalkan keindahan alam. Desa ini juga menawarkan pengalaman otentik kehidupan pedesaan yang sulit ditemukan di destinasi wisata mainstream.
Wisatawan dapat belajar bertani langsung dari warga, mulai dari menanam padi hingga membajak sawah dengan kerbau. Aktivitas ini dikenal dengan istilah “Mangul Pare”. Prosesi penyambutan tamu pun masih menggunakan tradisi Pitunggulan, diikuti pemukulan kohkol sebagai tanda dimulainya acara.
Kesenian tradisional seperti Celempung, alat musik dari bambu murni, masih dilestarikan. Pertunjukan Goong Renteng dan tarian Jaipong kerap dihadirkan saat festival desa.
Pada Juni 2025, Desa Cibeusi menggelar Festival Desa Wisata yang dimeriahkan lomba masak nasi liwet yang diikuti 23 RT, serta pertunjukan pencak silat, gembyung, dan tutunggulan.
Kuliner Khas dan Produk Unggulan
Cibeusi memiliki komoditas unik: beras hitam. Warnanya lebih pekat dibanding beras hitam dari daerah lain. Nasi liwet dari beras hitam ini menjadi kuliner wajib yang dijual dengan merek “Beras Menak”.
Selain itu, wisatawan dapat membawa pulang gula aren khas Cibeusi, madu, Kopi Urang, dan peuyeum ketan.
Akomodasi dan Aksesibilitas
Bagi yang ingin bermalam, tersedia homestay tradisional yang dikelola warga. Pengunjung juga dapat menginap di saung-saung bambu di area Jabon atau Kampung Senyum . Area camping ground juga tersedia di sekitar Curug Ciangin .
Akses menuju Cibeusi masih menjadi tantangan. Jalan desa yang relatif sempit menyulitkan kendaraan untuk berpapasan . Namun Kepala Desa Cibeusi, Wawan Aripin, memilih mempertahankan kondisi ini demi menjaga kearifan lokal dan kelestarian alam.
“Sehingga soal jalan ini kami tidak melakukan terobosan yang justru malah merusak kearifan lokal desa kami. Keaslian dan keasrian pesawahan akan tetap kami pertahankan,” ujarnya.
Rekomendasi Aktifitas
Trekking, Hiking, Sightseeing, Photography, Rafting, Culinary, Family Activities.







Tidak ada komentar