Pentingnya menjaga lisan dan tidak menyebarkan aib orang lain sesuai syariat Islam/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Islam memposisikan kehormatan seorang muslim sebagai sesuatu yang sakral dan terlarang untuk dinistakan melalui lisan maupun tulisan.

Praktik membuka aib, baik dalam bentuk obrolan santai maupun penyebaran informasi di media sosial, dikategorikan sebagai dosa besar yang merusak tatanan sosial.
Larangan ini bukan sekadar imbauan etika, melainkan perintah teologis yang disejajarkan dengan tindakan keji guna menjaga martabat kemanusiaan di dunia dan akhirat.
Konsep perlindungan aib ini berakar kuat pada surah Al-Hujurat ayat 12, yang mengibaratkan pelaku ghibah atau penggunjing seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang telah wafat.

Perumpamaan ekstrem tersebut bertujuan membangun rasa jijik kolektif terhadap perilaku mencari-cari kesalahan orang lain. Rasulullah SAW mempertegas sanksi bagi pelanggar privasi ini melalui ancaman pengungkapan balik aib sang pelaku oleh Allah SWT, bahkan jika ia bersembunyi di dalam rumahnya sekalipun.
“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat,” sebagaimana terekam dalam hadis riwayat Muslim nomor 2590.
Janji ini menjadi basis bagi setiap individu untuk lebih mengedepankan evaluasi diri dibandingkan mengeksploitasi cacat moral pihak lain. Secara sosial, menjaga lisan berfungsi mencegah disintegrasi, fitnah, dan permusuhan yang kerap berujung pada konsekuensi hukum positif seperti delik pencemaran nama baik.
Kendati demikian, syariat memberikan pengecualian ketat terkait kapan sebuah keburukan diperbolehkan untuk diungkap ke ruang publik.
Ruang lingkup darurat ini hanya berlaku untuk kepentingan penegakan hukum di pengadilan, peringatan terhadap praktik penipuan yang mengancam khalayak, serta perlindungan korban kekerasan.
Prinsipnya, pengungkapan tersebut harus terukur dan didasari motif kemaslahatan, bukan bertujuan untuk mempermalukan atau menghancurkan karakter seseorang secara personal.
Langkah preventif yang ditawarkan adalah penerapan tradisi tabayyun atau klarifikasi sebelum memproses sebuah informasi yang belum teruji kebenarannya.
Menahan diri dari berkomentar dan mendoakan perbaikan bagi mereka yang melakukan kesalahan dianggap sebagai derajat keimanan yang lebih tinggi.
Menutup celah tersebarnya aib merupakan bentuk kasih sayang antar sesama manusia yang menyadari bahwa setiap individu memiliki sisi gelap yang hanya ditutupi oleh kemurahan Sang Pencipta.







Tidak ada komentar