Gedung Bursa Efex Indonesia/Foto: WikipediaIndoragamnewscom, JAKARTA–Pasar modal Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Menyusul drama trading halt (penghentian perdagangan) yang terjadi selama dua hari berturut-turut, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rahman, secara mengejutkan menyatakan mundur dari jabatannya.

Langkah berani ini langsung mendapat sorotan tajam dari Senayan.
Apresiasi Sikap Gentleman
Anggota Komisi XI DPR RI, M. Hasanuddin Wahid atau yang akrab disapa Cak Udin, melontarkan apresiasi tinggi atas keputusan tersebut. Di tengah tekanan hebat akibat anjloknya IHSG, mundurnya Iman Rahman dinilai sebagai sikap ksatria yang jarang terjadi.

“Itulah wujud tanggung jawab. Saya betul-betul hormat dengan sikap gentle Pak Dirut Iman dalam menyikapi gejolak pasar yang terjadi,” ujar Cak Udin dalam keterangan resminya, Jumat (30/1/2026).
Taruhan Wajah Ekonomi Indonesia
Bagi politisi Fraksi PKB ini, IHSG bukan sekadar angka di layar monitor. Indeks tersebut adalah “detak jantung” kepercayaan investor dunia terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Menurutnya, stabilitas BEI tidak bisa ditawar lagi.
Cak Udin menegaskan bahwa siapa pun yang akan duduk di kursi panas Dirut BEI selanjutnya harus memiliki kapasitas “dewa” untuk memulihkan kepercayaan publik.
“Kami berharap pengganti Pak Iman adalah figur yang lebih profesional, berintegritas, dan mampu menjaga stabilitas BEI, baik di mata nasional maupun internasional. Bursa efek adalah wajah perekonomian kita di hadapan dunia,” tegasnya.
Alarm Keras Buat Pemimpin Baru
Kejadian trading halt berkepanjangan adalah sinyal bahaya yang tidak boleh terulang. Cak Udin menekankan bahwa kepemimpinan masa depan di bursa harus lebih lincah dalam membaca dinamika global yang makin tak tertebak.
Ia berharap sosok baru nantinya tidak hanya ahli secara teknis, tapi juga komunikatif dalam menenangkan pasar agar kepercayaan investor tidak terus tergerus.






