TRENDING

Indofarma Berhasil “Comeback” Cetak Laba, Komisi VII: Jangan Senang Dulu!

2 menit membaca
Nandang Permana
News, Politik - 01 Feb 2026

Indoragamnewscom, BANDUNG–Kabar gembira datang dari industri farmasi pelat merah. Indofarma sukses membalikkan keadaan dari terpuruk dalam kerugian menjadi mencatatkan keuntungan yang signifikan. Meski demikian, capaian ini belum membuat DPR RI sepenuhnya puas.

Dari Minus ke Laba: Prestasi atau Awal Perjuangan?

Dalam kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke PT Bio Farma, Bandung, Kamis (29/1/2026), Anggota Komisi VII DPR RI, Eva Monalisa, mengakui adanya lompatan performa finansial yang luar biasa dari Indofarma.

“Ini kan Indofarma, Bio Farma. Kalau kita lihat, dari tadi seperti Pak Dirjen Kemenperin juga bilang, ini sebagai perusahaan yang bisa naik dari minus 53 miliar ini, jadi mendapat laba di 76 miliar kurang lebih. Ini satu hal yang mungkin kita bisa apresiasi, cuman yang saya menjadi prihatin adalah bahan baku,” ungkap Eva lugas.

Hulu ke Hilir Belum Maksimal

Politisi Fraksi PKB ini menekankan bahwa angka di atas kertas tidak akan berarti banyak selama jantung industri farmasi kita—yaitu bahan baku—masih bergantung pada impor. Eva mendesak adanya integrasi nyata antara industri kimia dasar, petrokimia, dengan sektor farmasi.

“Jadi dari hulu ke hilirnya ini belum maksimal juga. Jadi ini masukkan untuk Kemenperin, mungkin kita bisa bangun dulu untuk hulu industrinya Bio Farma ini dengan integrasi dengan industri kimia dasar, petrokimia, bahan baku farmasinya ini mungkin bisa diintegrasikan dulu,” tegasnya.

Farmasi Adalah Keamanan Negara

Bagi Eva, farmasi bukan sekadar urusan bisnis dan ekonomi semata. Ia mengingatkan kembali memori kelam pandemi COVID-19 yang membuktikan bahwa ketahanan kesehatan adalah bagian dari kedaulatan dan keamanan negara. Tanpa kemandirian, Indonesia rentan terhadap krisis global.

“Ini industri strategis nasionalnya ini untuk keamanan negara. Ini bukan cuma sekadar sektor farmasi. Kalau kita lihat dari pengalaman kita COVID kemarin, kalau kita tidak cepat-cepat vaksin itu mungkin ekonomi kita juga sudah hancur, masyarakat banyak yang meninggal, dan negara bisa seperti negara-negara miskin yang lain, sudah porak-poranda ekonominya,” papar Eva.

Desak Insentif Agresif

Sebagai langkah konkret, Eva mendorong pemerintah untuk “tancap gas” dalam memberikan insentif yang lebih berani bagi industri farmasi dalam negeri. Dukungan tersebut harus mencakup transfer teknologi serta jaminan pasar dari negara agar pengusaha lokal berani berinovasi memproduksi bahan baku sendiri.

Bagikan Disalin

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
4 weeks ago
1 month ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!