Komisi XII DPR RI dukung penguatan ekosistem industri baterai nasional melalui kunjungan ke pabrik CATIB Karawang. Investasi Rp7 triliun, kapasitas 6,9 GWh, serap 3.000 tenaga kerja/Foto: Humas DPR RIIndoragamnewscom, JAKARTA-Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Putri Zulkifli Hasan menegaskan dukungan legislatif terhadap penguatan ekosistem industri baterai nasional. Dukungan ini disampaikan saat kunjungan kerja spesifik ke pabrik baterai kendaraan listrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat.

Putri menyebut proyek CATIB sebagai terobosan penting dalam pengembangan industri baterai di Indonesia. Kehadiran pabrik ini, menurutnya, menjadi tonggak awal terbentuknya ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) dan sistem penyimpanan energi (energy storage system) yang terintegrasi di dalam negeri.
“Ini adalah breakthrough, pabrik ekosistem baterai pertama di Indonesia. Tentu ini sangat mendukung transformasi energi bersih sekaligus proyek hilirisasi, khususnya nikel dan kobalt,” ujar Putri dikutip Jumat (17/4/2026).
Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa ketersediaan sumber daya mineral strategis seperti nikel, kobalt, dan mangan yang menjadi bahan baku utama baterai. Melalui kebijakan hilirisasi, pemerintah mendorong terbentuknya rantai pasok yang terintegrasi dari sektor hulu pertambangan hingga hilir industri manufaktur baterai.

Teknologi yang digunakan di pabrik CATIB tergolong modern dengan dominasi sistem robotik mencapai 80 persen, sehingga mampu menghasilkan produk dengan tingkat presisi tinggi.
“Kami melihat langsung, proses produksinya sudah sangat canggih dan presisi. Ini menunjukkan kesiapan Indonesia untuk masuk dalam rantai pasok global industri baterai,” tambahnya.
Pabrik CATIB memiliki kapasitas awal 6,9 GWh dengan potensi pengembangan hingga lebih dari 15 GWh. Proyek ini menelan investasi sekitar Rp7 triliun dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III 2026.
CATIB merupakan perusahaan patungan antara MIND ID melalui PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dan konsorsium CBL (Contemporary Amperex Technology Co Limited, Brunp, Lygend). Pabrik ini memproduksi baterai ion lithium dengan komposisi kimia NMC (nickel manganese cobalt) dan LFP (lithium ferro phosphate).
Komisi XII menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah dalam mendorong konversi kendaraan berbahan bakar minyak ke listrik. Langkah ini dinilai dapat menghemat subsidi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.
“Kalau program konversi motor listrik berjalan baik, ini akan menghemat subsidi BBM dan penggunaan minyak yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu barel,” ujarnya.
Dalam aspek sosial, Komisi XII menekankan pentingnya penyerapan tenaga kerja lokal. Pabrik ini diproyeksikan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja . Perusahaan diminta memprioritaskan warga sekitar, khususnya di wilayah ring satu.
“Kami minta tenaga kerja lokal harus diutamakan. Selain itu, pengelolaan limbah juga harus sesuai aturan agar industri ini benar-benar menjadi contoh green industry,” tegasnya.
Putri juga mengapresiasi rencana penggunaan energi terbarukan seperti panel surya dalam operasional pabrik sebagai bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. CATIB direncanakan menggunakan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 18 MWh untuk mendukung operasional pabrik.
Proyek CATIB juga mencakup program transfer teknologi melalui pelatihan tenaga kerja di China. Direktur Utama PT IBI Aditya Farhan Arif menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak terhadap pengembangan proyek ini.
“Fasilitas produksi baterai di Karawang ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada awal kuartal tiga tahun ini. PT IBI berkomitmen untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global baterai sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Aditya.
Dengan kapasitas besar dan dukungan teknologi mutakhir, Komisi XII optimistis proyek ini dapat mendorong Indonesia menjadi salah satu pusat produksi baterai kendaraan listrik terbesar di dunia.
“Kami berharap ke depan CATIB bisa menjadi salah satu penyuplai utama baterai EV dan energy storage system, bahkan menjadi pemain besar di tingkat dunia,” tegas Putri.
Per Januari 2026, pembangunan infrastruktur dasar pabrik telah selesai, sementara instalasi peralatan dan fasilitas pendukung masih berlangsung.







Tidak ada komentar