TRENDING

Kurang Tidur dan Ancaman Serius bagi Jantung

3 menit membaca
Padilah Rahayu
Ragam - 11 Apr 2026

Indoragamnewscom-Orang dewasa yang tidur kurang dari enam jam per malam memiliki risiko 1,7 kali lebih besar mengalami kematian akibat penyakit jantung iskemik dibandingkan mereka yang tidur tujuh hingga delapan jam.

Temuan ini berasal dari Alameda County Study yang melibatkan ribuan partisipan selama beberapa dekade.

Tidur bukan sekadar jeda dari aktivitas. Saat manusia terlelap dalam fase non-rapid eye movement (NREM), denyut jantung melambat, tekanan darah turun, dan pernapasan menjadi stabil. Penurunan tekanan darah malam hari ini disebut nocturnal dipping. Kurang tidur kronis menghambat proses itu, memaksa tekanan darah tetap tinggi sepanjang waktu.

Hipertensi yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko utama serangan jantung, stroke, dan gagal jantung. Bahkan kehilangan satu jam tidur setiap malam dapat meningkatkan risiko hipertensi secara signifikan dalam jangka panjang.

Selain tekanan darah, kurang tidur juga memicu respons peradangan sistemik. Penelitian menunjukkan peningkatan kadar protein inflamasi seperti C-reactive protein (CRP) dan interleukin-6 (IL-6) pada individu yang tidurnya tidak cukup. Kedua mediator ini merusak dinding pembuluh darah dan mempercepat proses aterosklerosis, atau penumpukan plak di arteri.

Hubungan antara kurang tidur dan jantung juga melibatkan regulasi metabolisme. Dalam studi eksperimental, pembatasan tidur terbukti menurunkan toleransi glukosa dan meningkatkan resistensi insulin. Durasi tidur kurang dari lima atau enam jam per malam dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, yang kemudian memperparah risiko penyakit kardiovaskular.

Keseimbangan hormon lapar dan kenyang juga terganggu. Kadar ghrelin—pemicu rasa lapar—melonjak, sementara leptin—pemberi sinyal kenyang—menurun. Akibatnya, individu yang kurang tidur cenderung makan lebih banyak, meningkatkan risiko obesitas. Obesitas sendiri menyumbang terhadap resistensi insulin dan tekanan darah tinggi, membentuk lingkaran setan yang membahayakan jantung.

Gangguan irama jantung atau aritmia juga mengintai. Kurang tidur memengaruhi aktivitas saraf otonom yang mengatur detak jantung, meningkatkan risiko takikardia ventrikel dan fibrilasi ventrikel. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berujung pada serangan jantung atau gagal jantung.

Studi terhadap pekerja dengan sistem kerja shift menunjukkan fungsi endotel yang lebih buruk dibandingkan pekerja non-shift. Endotel adalah lapisan dalam pembuluh darah. Ketika fungsinya terganggu, pembuluh kehilangan elastisitas dan lebih rentan terhadap kerusakan.

Tekanan darah tinggi, peradangan kronis, resistensi insulin, obesitas, aritmia, dan disfungsi endotel—semuanya bertumpuk pada satu akar masalah yang sama: kurang tidur. Badan Standarisasi Nasional dan lembaga kesehatan di berbagai negara merekomendasikan durasi tidur 7-9 jam per malam untuk orang dewasa.

Mencegah risiko ini dimulai dari rutinitas sederhana: tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, ciptakan lingkungan tidur yang gelap dan tenang, hindari kafein enam jam sebelum tidur, serta batasi paparan layar ponsel atau komputer satu jam sebelum beristirahat.

“Kurang tidur bukan hanya masalah kelelahan, tetapi juga dapat berdampak serius pada kesehatan jantung,” demikian pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.

Bagi mereka yang mengalami insomnia kronis atau gangguan tidur seperti sleep apnea, konsultasi medis diperlukan untuk mencegah komplikasi jantung di masa depan.

Bagikan Disalin

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
4 weeks ago
1 month ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!