Rajin memeriksakan kesehatan gigi dan mulut akan menghindarkan kita dari bau mulut tak sedap apalagi saat menjalankan ibadah Puasa bulan Ramadan/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Bau mulut yang kerap muncul selama Ramadan ternyata bukan sekadar akibat dari menahan lapar dan dahaga. Para ahli kedokteran gigi menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh serangkaian perubahan biologis di rongga mulut yang ilmiah dan dapat diantisipasi.

Dosen Spesialis Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Dr. Desiana Radithia, drg., Sp.PM(K), mengungkapkan bahwa penyebab utama bau mulut saat puasa adalah menurunnya produksi air liur secara drastis. Tanpa asupan makanan dan minuman, kelenjar ludah tidak mendapatkan rangsangan sehingga saliva yang berfungsi sebagai pembersih alami berkurang.
“Ketika puasa masalahnya air liurnya berkurang. Puasa juga menyebabkan perubahan pH sehingga banyak mikroorganisme yang mati. Yang mati ini harus dibersihkan. Kalau tidak dibersihkan jadinya aromanya keluar karena mereka membusuk,” jelasnya.
Kondisi mulut kering turut memengaruhi lapisan pelindung mulut atau epitel. Dalam keadaan normal, epitel terus-menerus berganti. Namun ketika kering, proses ini menjadi tidak ideal. “Ketika kering, epitel jadi seperti kulit yang mengelupas. Lapisan mulut yang terkelupas itu akhirnya menumpuk di permukaan rongga mulut. Kalau tidak dibersihkan oleh air liur, menjadi sumber aroma juga,” ungkap Desiana.

Hal senada disampaikan Guru Besar Bidang Patologi Mulut dan Maksilofasial Universitas Airlangga, Prof. Dr. Theresia Indah Budhy, drg., M.Kes., Sp.PM. Menurutnya, air liur mengandung banyak protein yang berfungsi menjaga keseimbangan pH rongga mulut dan mikroorganisme di dalamnya. “Hal ini menyebabkan penurunan metabolisme dan pH, serta berubahnya mikrobiome di rongga mulut. Mikroorganisme tersebut kemudian memproduksi zat-zat yang menyebabkan terjadinya bau mulut,” paparnya.
Sisa makanan di mulut saat sahur turut menjadi penyebab. Makanan tinggi gula dapat menurunkan pH sehingga mikrobiome tidak seimbang. Prof. Theresia menyarankan untuk menyikat gigi setelah sahur dan menghindari makanan dengan kandungan gula berlebih serta makanan lengket yang mudah menempel di gigi.
Dosen Spesialis Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Edi Karyadi, menambahkan bahwa bau mulut saat puasa termasuk kategori non-patologis, bukan disebabkan penyakit seperti gigi berlubang atau radang gusi. “Normalnya, produksi air liur dalam sehari mencapai satu sampai dua liter, tetapi saat puasa jumlahnya menurun menjadi sekitar setengah liter karena berkurangnya asupan cairan,” terangnya.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi. Hal ini menandakan bahwa bau mulut saat puasa merupakan hal yang alami.
Ketua Komite Koordinasi Pendidikan FKG Unair, Dr. Agung Krismariono, drg., M.Kes., Sp.Perio (K), menjelaskan mekanisme self cleaning saat makan dan minum menjadi berkurang. Ketika seseorang makan dan minum, bakteri di mulut ikut berpindah dan tertelan. “Sedangkan saat berpuasa bakteri-bakteri tersebut menetap di dalam mulut. Inilah yang menyebabkan mengapa saat puasa mulut kita lebih berbau dibanding saat tidak puasa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa gigi berlubang dan karang gigi menjadi faktor yang mempengaruhi bau mulut. Gigi berlubang menjadi tempat bakteri bersarang dan berkembang biak. Karena itu, selain rajin menggosok gigi saat malam hari dan setelah sahur, memeriksakan kesehatan gigi secara rutin ke dokter gigi juga harus dilakukan.
Soal penggunaan obat kumur, Dr. Agung menganjurkan untuk tidak terlalu sering menggunakannya. Kandungan alkohol dalam obat kumur tidak baik bagi kesehatan mulut bila terlalu sering digunakan. “Obat kumur bisa menghilangkan pula bakteri-bakteri baik yang memang seharusnya ada di rongga mulut. Ketika bakteri-bakteri baik ini hilang, maka akan meningkatkan potensi munculnya jamur di dalam rongga mulut,” jelasnya.
Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menekankan pentingnya membersihkan sela-sela gigi dengan benang gigi atau dental floss karena tidak terjangkau oleh sikat gigi. Ia juga menyarankan penggunaan obat kumur bebas alkohol.
Yang menarik, Prof. Suryono justru menyebutkan untuk menghindari konsumsi makanan yang dapat memicu aroma menyengat seperti jengkol, petai, durian, atau bawang.
Untuk menjaga kelembapan mulut, para ahli sepakat pentingnya mencukupi kebutuhan cairan. Edi Karyadi menyarankan pola konsumsi air dengan rumus 2-4-2 atau 3-2-3: dua gelas saat berbuka, empat gelas pada malam hari, dan dua gelas saat sahur, atau tiga gelas saat berbuka, dua gelas sebelum tidur, dan tiga gelas saat sahur. Buah dengan kadar air tinggi seperti semangka dan melon juga baik untuk menjaga hidrasi.







Tidak ada komentar