Daun katuk segar dalam keranjang anyaman siap diolah menjadi sayuran yang menyehatkan/Ilustrasi: Indoragamnewscom
Indoragamnewscom- Daun katuk yang selama ini dikenal sebagai sayuran pelancar air susu ibu ternyata menyimpan beragam khasiat lain, mulai dari mempercepat penyembuhan luka hingga menurunkan gula darah berkat kandungan vitamin C dan sifat antidiabetes di dalamnya.

Di Indonesia, daun katuk atau Sauropus androgynus biasa dikonsumsi dengan mengolahnya menjadi sayur bening. Seiring perkembangan teknologi, kini tersedia pula pil berisi ekstrak daun katuk.
Dalam 100 gram daun katuk terkandung beragam nutrisi, antara lain air 83,3 gram, protein 5,3 gram, kalori 53 Kal, karbohidrat 9,1 gram, serat 1,2 gram, lemak 0,9 gram, kalsium 185 mg, zat besi 3,1 mg, fosfor 102 mg, kalium 291,3 mg, natrium 16 mg, seng 1,3 mg, vitamin C 66 mg, beta-karoten 11.131 mcg, niasin 2,2 mg, serta riboflavin 0,30 mg.
Manfaat pertama daun katuk bagi wanita adalah meningkatkan produksi ASI. Daun katuk dipercaya dapat membantu meningkatkan hormon prolaktin dan oksitosin yang mempengaruhi produksi ASI karena kandungan sterol yang bersifat estrogenik.
Hormon prolaktin dan oksitosin berperan merangsang alveoli payudara untuk menyerap lebih banyak protein, lemak, dan gula dalam darah yang akan digunakan dalam memproduksi ASI. Hasil penelitian pada ibu menyusui di Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar menyatakan bahwa penggunaan ramuan tradisional seperti rebusan daun katuk dan ekstrak daun katuk efektif dalam memenuhi kecukupan ASI.

Selain meningkatkan ASI, daun katuk bermanfaat mempercepat proses penyembuhan luka. Kandungan vitamin C pada katuk dapat membantu membentuk kolagen, yakni protein yang penting untuk membangun kulit. Ketika seseorang mengonsumsi daun katuk, vitamin C di dalamnya akan dipecah oleh tubuh dan diangkut bersama aliran darah menuju sel yang membutuhkan, termasuk pada area kulit yang terluka.
Manfaat lain daun katuk adalah meningkatkan sistem imun tubuh. Peran vitamin C yang terkandung di dalamnya dapat membantu memenuhi asupan vitamin C sehingga imunitas meningkat untuk melawan gangguan virus, bakteri, hingga parasit.
Daun katuk juga berkhasiat menurunkan gula darah berkat kandungan zat bersifat antidiabetes. Sifat tersebut dapat membantu menurunkan kadar gula darah tinggi yang berisiko menyebabkan diabetes. Selain itu, mengonsumsi daun katuk turut membantu menjaga berat badan.
Daun katuk mengandung karotenoid yang bersifat antioksidan. Senyawa flavonoid seperti apigenin, quercetin, dan luteuin membuat antioksidan pada daun katuk semakin lengkap.
Antioksidan tersebut dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari peradangan akibat radikal bebas. Sebuah studi yang diterbitkan The Natural Products Journal pada 2015 menyebutkan bahwa zat antiradang pada daun katuk dapat membantu mengurangi pembengkakan lebih cepat.
Meski mengandung nutrisi lengkap, hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan manfaat daun katuk untuk meningkatkan kesuburan. Adapun cara mengonsumsi daun katuk dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi berbagai hidangan, seperti tumis katuk telur dadar.
Bahan yang diperlukan antara lain 300 gram daun katuk, dua butir telur ayam, dua sendok makan minyak goreng, dua lembar daun salam, satu buah tongkol jagung manis diserut, dua buah cabai merah diiris, garam secukupnya, gula pasir secukupnya, 150 ml santan kental, serta bumbu halus berupa dua siung bawang putih, empat butir bawang merah, dan merica secukupnya.
Cara membuatnya dengan mengocok telur lalu menggoreng dadar tebal hingga matang, menumis bumbu halus, memasukkan daun katuk, jagung, dan cabai, menambahkan garam dan gula, menuangkan santan, memasak hingga layu, kemudian menambahkan telur dadar.
Meski kaya manfaat, konsumsi daun katuk perlu dalam batas tertentu karena jika berlebihan dapat menyebabkan efek samping seperti kantuk hingga sembelit. Pada kasus lebih parah, daun katuk mentah berisiko menyebabkan gagal napas akibat peradangan paru. Pastikan mengonsumsinya dalam keadaan matang dan tidak berlebihan serta menambahkan variasi sayuran lain agar asupan nutrisi semakin kaya.







Tidak ada komentar