Rina Sa’adah: Jangan Kejar Pajak, Tapi Buka Ruang Ekonomi Baru

2 menit membaca
Nandang Permana
News, Politik - 02 Apr 2026

Indoragamnewscom, JAKARTAAnggota Badan Anggaran DPR RI Rina Sa’adah menyoroti potensi shortfall penerimaan pajak terhadap APBN 2026–2027 dalam Rapat Dengar Pendapat Umum bersama para pakar di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Ia mengkritik pendekatan pemerintah yang dinilai terlalu fokus mengejar target pajak dari masyarakat, sementara program-program yang digelontorkan belum menunjukkan dampak optimal terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, APBN seharusnya diposisikan sebagai investasi yang membuka ruang ekonomi baru, bukan sekadar beban bagi rakyat.

Rina mengaku prihatin terhadap kondisi penerimaan pajak di tengah tantangan geopolitik global dan melemahnya daya beli masyarakat. Ia menilai pemerintah perlu lebih cermat merancang kebijakan perpajakan agar tidak semakin membebani masyarakat.

“Kalau sekarang ini yang dikejar pajak ke masyarakat, tetapi dari sisi APBN, jangan hanya dilihat sebagai beban. Mestinya APBN diposisikan sebagai investasi yang bisa membuka ruang ekonomi baru,” ujar Rina.

Menurutnya, pendekatan APBN seharusnya tidak hanya berfokus pada penyerapan anggaran, tetapi juga pada dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi. Program pemerintah idealnya mampu mendorong produksi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah, serta pada akhirnya meningkatkan penerimaan pajak dan PNBP secara alami.

Ia menilai masih terdapat ketimpangan antara besarnya anggaran yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh dari sisi pajak.

“Logikanya, program itu dibuat untuk menggerakkan ekonomi. Tapi yang terjadi sekarang, program habis anggaran, lalu pajaknya tetap dikejar ke masyarakat,” kata Legislator Dapil Jawa Barat X ini.

Rina menyoroti lemahnya pengawasan terhadap program pemberdayaan UMKM. Menurutnya, banyak program yang hanya bersifat bantuan tanpa evaluasi berkelanjutan terkait peningkatan skala usaha penerima manfaat.

“Stimulus untuk UMKM memang ada, seperti bantuan modal dan inkubasi. Tapi setelah itu tidak ada pengawasan apakah mereka benar-benar naik kelas dari usaha kecil ke menengah,” jelasnya.

Politisi Fraksi PKB ini menilai pola tersebut cenderung menyerupai pendekatan bantuan sosial, bukan pemberdayaan ekonomi produktif yang berkelanjutan.

Dari sisi sektoral, ia mencatat bahwa penerimaan negara masih didominasi sektor perdagangan, sementara sektor lain seperti pertanian dan perikanan dinilai belum optimal dalam berkontribusi terhadap penerimaan pajak.

Untuk itu, Rina meminta pandangan para pakar mengenai peluang peningkatan penerimaan negara dari sektor-sektor tersebut, terutama melalui optimalisasi program yang sudah berjalan.

“Program di sektor pertanian dan perikanan sebenarnya sudah bagus. Tapi kalau dilihat dari dampaknya terhadap penerimaan negara, masih kurang maksimal,” pungkasnya.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!