Proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela di Laut Arafura, lepas pantai Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, Maluku/Foto: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas BumiIndoragamnewscom, JAKARTA-Penantian lebih dari seperempat abad berakhir sudah. Proyek Strategis Nasional Lapangan Abadi di Blok Masela, Maluku, resmi memasuki tahap pembangunan fisik pada Februari 2026.

Tenaga Ahli Menteri ESDM Satya Hangga Yudha Widya Putra menyebut momen ini sebagai bukti nyata proyek yang selama ini hanya wacana kini beranjak ke lapangan.
“Momentum ini ditandai dengan dimulainya pembangunan fisik pada Februari lalu, sebuah bukti nyata proyek ini telah bergeser dari sekadar wacana administratif menjadi aksi nyata di lapangan,” ujarnya dikutip Selasa (14/4/2026).
Perjalanan panjang Blok Masela dimulai sejak 1998 ketika Cadell Exploration menemukan struktur hidrokarbon di blok tersebut.

Namun, kontroversi lokasi pembangunan—antara di darat di Pulau Yamdena atau di laut lepas—menyebabkan proyek ini mandek bertahun-tahun . Baru pada 2016, pemerintah memutuskan pembangunan kilang LNG di darat, dan pada 2023 finalisasi rencama pembangunan (POD) akhirnya rampung.
Kini, urgensi proyek itu semakin meningkat seiring memanasnya dinamika global. Konflik di Timur Tengah mengancam jalur perdagangan Selat Hormuz, memicu fluktuasi harga minyak mentah hingga menyentuh 110 dolar AS per barel.
“Dalam konteks inilah Blok Masela hadir sebagai benteng domestik yang akan menyuplai energi secara masif dan stabil,” kata Hangga.
Secara komersial, kemajuan signifikan telah dicapai melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Inpex Corporation dan PT Pertamina pada 30 Maret 2026 di Tokyo.
Proyek yang dikelola Inpex (65 persen saham) bersama Pertamina (20 persen) dan Petronas (15 persen) ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi 9,5 juta ton per tahun LNG, 150 MMSCFD gas pipa, serta 35.000 barel minyak kondensat per hari.
Pemerintah menetapkan skema alokasi berimbang untuk menjaga keekonomian proyek sekaligus ketahanan nasional.
“Pemerintah menetapkan skema alokasi berimbang, yakni 60 persen untuk pasar ekspor guna menjamin keekonomian proyek dan 40 persen tetap dialokasikan untuk kebutuhan domestik,” jelas Hangga.
Selain aspek energi, pengembangan Blok Masela dipastikan membawa dampak berganda bagi masyarakat Maluku. Pemerintah memberikan hak kelola participating interest sebesar 10 persen bagi Badan Usaha Milik Daerah, yang saat ini tengah diperkuat regulasinya oleh Pemkab Seram Bagian Timur bersama Kanwil Kemenkum Maluku. Proyek ini juga diproyeksikan menciptakan lapangan kerja masif dan program transfer teknologi.
“Dengan pengawalan ketat lintas kementerian dan koordinasi bersama pemerintah daerah, Blok Masela diharapkan tidak hanya menjadi sumber energi bagi nasional, tetapi juga menjadi motor penggerak peradaban ekonomi baru yang lebih sejahtera bagi masyarakat di garda terdepan timur Indonesia,” pungkas Hangga.







Tidak ada komentar