Telaga Remis di Kuningan menyajikan air jernih, hutan pinus, dan mitos tangisan pangeran yang membentuk danau seluas 3,25 hektare/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Airnya jernih, pepohonan pinus merimbun, dan suasananya sunyi. Di kaki Gunung Ciremai, Telaga Remis menyimpan cerita yang tak kalah dalam dari warna kehijauan airnya. Sebuah danau yang konon lahir dari tangisan seorang pangeran.

Telaga Remis berada di Desa Kaduela, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat . Jaraknya sekitar 37 kilometer dari pusat kota Kuningan, atau satu jam perjalanan darat . Kawasan ini mencakup lahan seluas 13 hektare, dengan luas danau 3,25 hektare.
Nama telaga ini berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda. Telaga berarti danau, sementara remis merujuk pada sejenis kerang berwarna kuning yang banyak ditemukan di perairannya. Di dalam danau, ikan mujair dan ikan mas menjadi penghuni utama.
Pengelolaan kawasan ini kini berada di tangan Perum Kehutanan Kabupaten Kuningan . Wahana sepeda air tersedia bagi pengunjung yang ingin berkeliling. Bagi pejalan kaki, terdapat jalur khusus yang mengelilingi danau.

Tapi Telaga Remis bukan hanya soal keindahan alam. Masyarakat setempat mewariskan cerita tentang asal-usulnya. Alkisah, pada masa lalu, Sultan Matangaji dari Keraton Cirebon menolak membayar upeti kepada Kerajaan Mataram . Kerajaan Mataram pun mengirim Pangeran Selingsingan beserta pasukannya.
Dalam perjalanan, rombongan itu bertemu dengan Pangeran Purabaya dari Mataram yang hendak menagih upeti. Pertemuan di kaki Gunung Slamet itu berujung pada pertempuran yang tak terelakkan.
Pangeran Selingsingan terdesak. Ia melapor kepada Sultan Matangaji. Sultan kemudian mengirim menantunya, Elang Sutajaya, yang dikenal sakti mandraguna. Elang Sutajaya berhasil mengalahkan Pangeran Purabaya dengan keris pusakanya.
Dalam kondisi kalah, Pangeran Purabaya memohon ampun. “Aku hanya manusia biasa yang beragama Islam,” katya, seperti dikutip dari cerita yang dihimpun. Elang Sutajaya menolak. “Kamu bukan muslim yang baik. Tidak ada muslim yang melakukan kekerasan, memulai peperangan, apalagi membunuh orang lain,” ujarnya.
Nasihat itulah yang membuat Pangeran Selingsingan terharu. Air matanya jatuh tak henti. Hingga akhirnya terbentuklah Telaga Remis. Sementara itu, Pangeran Purabaya berubah wujud menjadi seekor bulus, kura-kura, yang dinamai Si Mendung Purbaya.
Ada pula mitos yang berkembang di kalangan warga: pengunjung dilarang berpacaran di sekitar telaga. Jika dilanggar, hubungan mereka dipercaya akan berakhir tak lama setelah meninggalkan tempat ini.
Lagu berjudul “Telaga Reumis” ciptaan Nano S yang dipopulerkan Nining Meida pada era 1980-an konon terinspirasi dari danau ini . Airnya terus mengalir, tangisan itu tak pernah benar-benar berhenti.







Tidak ada komentar