Menko Pangan Zulkifli Hasan dan Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani saat menghadiri acara Panen Raya dan Peluncuran Penyerapan Gabah di Maros, Sulawesi Selatan/Foto: Humas Kemenko PanganIndoragamnewscom, JAKARTA– Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memastikan rencana impor beras sebanyak 1.000 ton dari Amerika Serikat merupakan beras khusus yang tidak akan beredar di pasar domestik.

Komoditas tersebut masuk dalam skema perjanjian dagang timbal balik dengan AS dan hanya menyasar segmen pasar terbatas seperti restoran internasional atau kebutuhan kesehatan tertentu.
“Nah kalau beras khusus, ada juga beras buat orang yang kena gula gitu. Kita yang jelas bukan beras yang buat makanan kita,” ujar Zulkifli dikutip pada Selasa (3/3/2026).
Politikus yang akrab disapa Zulhas itu menegaskan bahwa Indonesia sama sekali tidak mengimpor beras medium maupun beras konsumsi dari Amerika Serikat karena produksi dalam negeri dinilai telah mencukupi.

Menurut Zulhas, praktik impor beras khusus bukanlah hal baru. Indonesia selama ini juga memiliki perjanjian serupa dengan Jepang, terutama untuk memenuhi kebutuhan restoran Jepang yang memerlukan jenis beras tertentu yang tidak diproduksi massal di dalam negeri. Harga beras jenis tersebut relatif tinggi dan tidak kompetitif di pasar umum.
“Mahal itu, 100 ribu lebih 1 kilo kan. Siapa mau beli kan, yang beli kan yang makan di restoran Jepang aja, kalau yang Jepang kan gitu,” jelasnya.
Impor beras ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang tarif imbal balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani Indonesia dengan Amerika Serikat.
Dalam dokumen perjanjian tersebut, Indonesia berkomitmen mengimpor komoditas pertanian senilai 4,5 miliar dolar AS, termasuk beras sebanyak 1.000 ton per tahun yang meliputi gabah, beras lepas kulit, beras putih, dan beras pecah (menir).
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, sebelumnya menjelaskan bahwa realisasi impor akan sangat tergantung pada permintaan dalam negeri. Ia mencatat bahwa dalam lima tahun terakhir, Indonesia tidak melakukan impor beras dari AS sama sekali.
“Komitmen impor beras AS hanya sebesar 1.000 ton tidak signifikan atau hanya sekitar 0,00003 persen dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton tahun 2025,” ujar Haryo dalam keterangan tertulisnya.
Dengan volume yang sangat kecil tersebut, pemerintah memastikan kebijakan ini tidak akan mengganggu stabilitas pasar beras nasional. Beras khusus impor memiliki harga yang jauh lebih tinggi sehingga secara alami tidak akan kompetitif di pasar umum.







Tidak ada komentar