Makam Prabu Kiansantan atau yang dikenal Syekh Sunan Rohmat Suci /Foto: IstimewaIndoragamnewscom-Penyebaran agama Islam di Garut menyimpan narasi panjang yang melibatkan transformasi keyakinan lama menuju ajaran tauhid.

Kabupaten yang dikenal dengan lanskap pegunungannya ini menjadi saksi bisu bagaimana para pendahulu, mulai dari bangsawan kerajaan hingga ulama pejuang, menanamkan nilai-nilai keislaman secara bertahap.
Jejak sejarah ini tidak hanya tertuang dalam hikayat, tetapi juga termanifestasi melalui situs-situs bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Keberhasilan dakwah di wilayah ini melibatkan perpaduan antara diplomasi budaya, pengaruh kekuasaan, hingga perlawanan terhadap kolonialisme. Berikut adalah profil tiga tokoh kunci yang membentuk fondasi Islam di tanah Garut.

1. Eyang Embah Dalem Arief Muhammad: Pionir Dakwah di Kampung Pulo
Eyang Embah Dalem Arief Muhammad merupakan tokoh abad ke-17 yang memiliki latar belakang militer dari Kerajaan Mataram. Awalnya, beliau adalah utusan yang dikirim untuk menyerang VOC di Batavia. Namun, kegagalan misi tersebut membuat beliau memilih untuk menetap di wilayah Garut guna menghindari sanksi dari kerajaan.
Di lokasi pelariannya, tepatnya di Kampung Pulo, Arief Muhammad memulai misi dakwahnya. Beliau mengajarkan agama Islam kepada masyarakat lokal yang saat itu masih memegang teguh kepercayaan Hindu, animisme, dan dinamisme. Strategi dakwahnya menyisakan warisan unik yang tetap terjaga hingga generasi ke-10 saat ini.
Beberapa poin penting dari peninggalan beliau meliputi:
Arsitektur Simbolis: Keberadaan enam rumah dan satu mushaf (musala) di Kampung Pulo yang melambangkan jumlah tujuh anak beliau (enam perempuan dan satu laki-laki).
Aturan Adat: Jumlah bangunan di area tersebut tidak boleh berubah, tetap berjumlah tujuh sebagai bentuk penghormatan terhadap silsilah keluarga.
Artefak Sejarah: Museum lokal di dekat makam keramat menyimpan naskah Alquran abad ke-17 yang ditulis di atas kertas daluang dari batang pohon saeh.
2. Prabu Kiansantang: Transformasi Bangsawan Menjadi Syekh Sunan Rohmat Suci
Prabu Kiansantang, atau Syekh Sunan Rohmat Suci, adalah figur sentral yang menghubungkan trah Kerajaan Pajajaran dengan ajaran Islam. Garis keturunannya memberikan pengaruh besar dalam proses islamisasi di wilayah Limbangan hingga ke pesisir utara Jawa. Berdasarkan catatan sejarah, beliau mendalami agama Islam langsung di Mekkah, bahkan diyakini berinteraksi dengan Ali bin Abi Thalib.
Sekembalinya ke tanah Pajajaran, beliau mulai mengislamkan para penguasa lokal. Di wilayah Limbangan, keberhasilan beliau mencakup pengislaman Raja Galuh Pakuwon yang kemudian diikuti secara masif oleh rakyatnya. Tokoh-tokoh lain seperti Santowan Suci Mareja dan Sunan Batuwangi juga turut memeluk Islam melalui pengaruh beliau.
Setelah misi dakwahnya meluas di hampir seluruh wilayah Priangan, Raden Kiansantang memilih menghabiskan masa tuanya di Garut sebagai guru syariat. Masyarakat meyakini bahwa beliau dimakamkan di lereng Gunung Karacak, Karangpawitan, yang hingga kini menjadi pusat ziarah penting di Garut.
3. KH Mustofa Kamil: Ulama Pejuang Melawan Hegemoni Penjajah
Berbeda dengan tokoh-tokoh sebelumnya, KH Mustofa Kamil mewakili era perjuangan kemerdekaan. Lahir pada 5 Agustus 1884 di Pasirwangi, beliau merupakan keturunan Syekh Syarif Hidayatullah yang mengenyam pendidikan agama di Masjidil Haram, Mekkah.
Sepulangnya ke Garut, aktivitas dakwah beliau di Masjid Agung Garut sempat memicu ketegangan dengan pemerintah kolonial dan Bupati saat itu. Hal ini disebabkan oleh keberanian beliau dalam:
Menerjemahkan Alquran: Beliau konsisten menerjemahkan Alquran dan Kitab Kuning ke dalam bahasa Indonesia serta Sunda agar lebih dipahami rakyat jelata.
Dakwah Politis: Menyisipkan materi kemerdekaan dalam setiap pengajian, yang dianggap sebagai ancaman serius oleh Belanda.
Pembangunan Masjid Mandiri: Menanggapi larangan berdakwah, beliau bersama warga membangun Masjid Perjuangan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia Al Musthafa secara swadaya.
Eksistensi KH Mustofa Kamil ditandai dengan sikap tidak kompromi terhadap penjajah. Beliau berkali-kali mendekam di penjara, baik pada masa Belanda maupun Jepang.
Perjuangan beliau berakhir secara heroik sebagai syuhada pada 10 November 1945 di Jawa Timur, saat beliau bertempur mendampingi Bung Tomo dalam pertempuran Surabaya.







Tidak ada komentar