Pemerintah Kabupaten Kubu Raya meresmikan Tugu Mangrove sebagai ruang publik baru yang berlokasi di Bundaran Gaforaya, bertepatan dengan malam pergantian tahun, Selasa (31/12/2025)/Foto: Humas Pemkab Kubu RayaIndoragamnewscom, KUBU RAYA-Pemerintah Kabupaten Kubu Raya meresmikan Tugu Mangrove sebagai ruang publik baru yang berlokasi di Bundaran Gaforaya, bertepatan dengan malam pergantian tahun, Selasa (31/12/2025).

Peresmian ini menegaskan komitmen Pemkab Kubu Raya dalam membangun identitas daerah melalui ruang terbuka yang sarat makna filosofis dan simbolik.
Tugu setinggi 20,7 meter ini merepresentasikan tahun berdirinya Kabupaten Kubu Raya pada 2007. Secara visual, struktur tugu memadukan gambaran hutan mangrove dalam lingkaran tunas buah kelapa simbol kemakmuran dan kebermanfaatan, sebagaimana kelapa yang setiap bagiannya berguna bagi kehidupan.
Sementara itu, mangrove menggambarkan kekokohan wilayah pesisir Kubu Raya dalam melindungi daratan dari abrasi, sekaligus mencerminkan arah kepemimpinan pasangan kepala daerah berkomitmen penuh mengabdi untuk kepentingan masyarakat.

“Satu jengkal pun saya tidak akan mundur untuk kepentingan bangsa dan negara. Dan sedetik pun, saya dan Pak Sukiryanto tidak akan menyerah,” tegas Bupati Kubu Raya, Sujiwo.
Tujuh ornamen benteng pada tugu melambangkan bulan Juli, sedangkan 17 kotak taman mewakili tanggal 17 Juli, hari jadi Kabupaten Kubu Raya.
Menariknya, pembangunan Bundaran Gaforaya dan Tugu Mangrove tidak menggunakan dana APBD, melainkan hasil kontribusi dunia usaha, termasuk perusahaan perkebunan dan pelaku usaha di sepanjang Jalan Ahmad Yani hingga Arteri Supadio. Total anggaran pembangunan sebesar Rp4,8 miliar.
Dalam rangkaian peresmian, Pemkab juga menggelar penggalangan donasi kemanusiaan bagi korban bencana di Aceh dan Sumatra, disertai kegiatan Doa Lintas Agama. Dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp510.413.700.
Sebagian besar dana telah disalurkan ke daerah terdampak bencana, sementara sebagian lainnya akan digunakan untuk membantu masyarakat kurang mampu di Kubu Raya, sesuai aspirasi warga.
“Apa yang menjadi keinginan rakyat, itulah yang akan kita ikuti,” ujar Bupati.
Salah satu pengusaha lokal, Ali Burhan dari PT Duta Mix, menyampaikan bahwa pembangunan Kubu Raya adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Ia menyebut Tugu Mangrove sebagai simbol ikatan antara pemimpin dan rakyat.
“Kita adalah lingkaran api yang memeluk mangrove sebagaimana kita memeluk pemimpin kita. Namun lidah api itu juga adalah kritik, yang lahir bukan dari kebencian, melainkan kasih dan tanggung jawab,” ungkapnya.
Sementara itu, Eta, warga Sungai Rengas, menyambut positif kehadiran Tugu Mangrove yang dinilainya membuat wajah Kubu Raya semakin indah dan potensial menarik pengunjung.
“Tugu ini bisa jadi ikon baru Kubu Raya. Semoga daerah kita makin dikenal dan berkembang,” ujarnya.
Baik warga maupun pelaku usaha sepakat bahwa Tugu Mangrove menjadi simbol kolaborasi nyata antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus menjadi ruang publik representatif di jantung kota.






