Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Maman Imanul Haq, menilai faktor kepercayaan merupakan fondasi utama bagi siapa pun yang ingin bergabung dalam lembaga BAZNAS/Foto: IndoragamnewscomIndoragamnewscom, JAKARTA-Isu kepercayaan publik BAZNAS menjadi perhatian utama dalam rapat pertimbangan calon anggota Badan Amil Zakat Nasional dari unsur masyarakat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Maman Imanul Haq, menilai faktor kepercayaan merupakan fondasi utama bagi siapa pun yang ingin bergabung dalam lembaga pengelola zakat nasional itu.
Menurut Maman, kredibilitas lembaga tidak hanya ditentukan oleh individu, tetapi juga oleh tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, dan terstandarisasi antara BAZNAS pusat dan daerah.
Ia menilai penguatan sistem kelembagaan harus menjadi prioritas untuk memastikan pengelolaan zakat berjalan terkoordinasi. Standardisasi tata kelola dinilai penting agar tidak muncul persepsi di masyarakat bahwa zakat dapat dikelola secara terpisah di luar struktur resmi.

“Standardisasi tata kelola antara pusat dan daerah sangat penting. Anggota BAZNAS harus memiliki kekuatan moral dan institusional yang meyakinkan sehingga menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Jangan sampai di daerah muncul anggapan bahwa zakat tidak perlu melalui BAZNAS,” ujar Kiai Maman-sapaan akrab Maman Imanul Haq.
Dalam forum tersebut, Maman juga menyoroti pentingnya menjaga integritas lembaga dari potensi konflik kepentingan. Ia menyinggung putusan Mahkamah Konstitusi terkait peran regulator dan eksekutor yang perlu menjadi perhatian dalam memperkuat tata kelola BAZNAS.
“Kita harus benar-benar memastikan tidak ada konflik kepentingan di internal BAZNAS. Peran sebagai regulator dan eksekutor harus jelas dan diawasi dengan baik agar integritas lembaga tetap terjaga,” tegasnya.
Selain tata kelola, Maman menilai komunikasi antara BAZNAS pusat dan daerah perlu diperkuat melalui kehadiran langsung serta pembinaan berkelanjutan. Ia mengaku merasa janggal jika lembaga zakat nasional tidak cukup intens turun ke daerah untuk membangun dialog dan memperkuat kepercayaan publik.
Dalam konteks relasi negara dan masyarakat sipil, ia melihat selama ini publik lebih percaya kepada tokoh agama atau kiai dalam urusan penyaluran zakat. Tantangan bagi BAZNAS adalah meyakinkan masyarakat bahwa penyaluran zakat melalui lembaga resmi memberikan dampak yang lebih luas dan terukur.
“BAZNAS memiliki keunggulan berupa data yang lengkap yakni siapa yang membayar zakat dan siapa yang berhak menerima. Ini yang harus disampaikan kepada masyarakat agar kepercayaan itu tumbuh,” jelasnya.
Maman juga menekankan pentingnya transformasi digital dalam pengelolaan zakat. Namun ia mengingatkan agar pengembangan teknologi tidak justru membuat masyarakat bingung akibat banyaknya aplikasi atau kanal yang tidak terintegrasi.
“Transformasi data itu penting, tapi jangan sampai membuat masyarakat bingung. Prinsip BAZNAS adalah prinsip Al-Qur’an yakni jemput bola. Datangi para muzakki, yakinkan bahwa zakat adalah tathhir, mensucikan, membersihkan, dan menguatkan kehidupan,” kata Maman.
Ia menambahkan, semakin kuat kepercayaan masyarakat dan semakin baik pengelolaan zakat, maka manfaat zakat akan semakin dirasakan luas dan membawa keberkahan bagi umat.
“Semakin banyak zakat yang dikelola dengan baik, insyaallah semakin berkah dan menguatkan kehidupan sosial kita,” pungkasnya.






