Gubernur Jabar Dedi Mulyadi./Foto: Humas Pemprov JabarIndoragamnewscom, BANDUNG-Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai kenaikan harga elpiji nonsubsidi bisa disiasati dengan diversifikasi energi berbasis kearifan lokal. Salah satunya biogas dari kotoran sapi yang telah diterapkan peternak di Kabupaten Bandung Barat.

Api kompor dari biogas, kata Dedi, tergolong besar dan mampu digunakan untuk memasak sehari-hari.
“Bisa mengelola kotoran sapi berubah jadi energi gas, bisa. Sampah, bisa. Listrik, bisa,” ujar KDM, sapaan akrabnya dikutip Selasa (21/4/2026).
Biogas dihasilkan dari dekomposisi bahan organik oleh bakteri dalam kondisi tanpa oksigen. Kandungan utamanya metana (50-70 persen) dan karbon dioksida (30-50 persen), plus jejak gas lain seperti hidrogen sulfida.

Selain biogas, Dedi menyebut masyarakat perkampungan bisa kembali menggunakan kayu bakar. Sementara untuk warga perkotaan, kompor listrik menjadi pilihan lain.
“Jadi memang kita harus menyesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan kita,” ucapnya.
Dedi meyakini warga Jawa Barat dapat menyiasati gejolak harga energi. “Saya meyakini warga Indonesia ini warga yang inovatif dan cerdas,” katanya.
Kenaikan harga elpiji nonsubsidi mulai berlaku 18 April 2026. Di Jawa Barat, harga Bright Gas 12 kg naik menjadi Rp228.000 per tabung, sementara varian 5,5 kg menjadi Rp107.000 per tabung. Harga elpiji subsidi 3 kg tidak mengalami perubahan.
Kebijakan ini diambil PT Pertamina Patra Niaga sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik serta terganggunya distribusi energi global.







Tidak ada komentar