Kerajaan Landak: Dari Ekspedisi Pamalayu hingga Ziarah Akbar

4 menit membaca
Evan Permana
News, Wisata - 10 Jun 2026

Indoragamnewscom-Meriam peninggalan bernama Kyai Mayonggoboyo dan Kyai Tundung Mungso masih tersimpan di Munggu Ayu. Dua buah guci, gong, gamelan, congklak, piring, tombak, perisai, dan pedang juga masih bisa disaksikan.

“Banyak benda pusaka yang telah dijarah oleh penjajah Belanda. Sedangkan Jepang lebih banyak membunuh putra terbaik dari kerajaan Landak,” tutur Gusti Mahyuddin.

Kerajaan Landak bertempat di Jalan Pangeran Sanca Natakusuma No. 6, Desa Raja, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Kerajaan ini awalnya merupakan Kerajaan Hindu yang terbentuk dari hasil invasi Kerajaan Singasari untuk memblokir masuknya Kerajaan Mongol ke Nusantara.

Pada tahun 1275 masehi, Raja Kertanegara memerintahkan bala tentara untuk mengembangkan kekuasaan yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu, berlangsung hingga tahun 1292 M. Sang Nata Pulang Pali I adalah pemimpin ekspedisi tersebut sekaligus putra tertua Ratu Brawijaya Angkawijaya, Raja yang memerintah Kerajaan Majapahit pada tahun 1284-1478 masehi.

Berita meninggalnya Raja Kertanegara memaksa rombongan ekspedisi Pamalayu pulang ke Jawa. Namun Sang Nata Pulang Pali I membelokkan armadanya menuju Nusa Tanjungpura—nama Borneo dahulu, yang kini dikenal sebagai Pulau Kalimantan. Rombongan kemudian meneruskan perjalanan melalui Ketapang, menyusuri Sungai Kapuas hingga berbelok melalui Sungai Landak Kecil dan berhenti di Kuala Mandor.

Perlawanan terhadap Penjajah

Kedatangan Belanda melalui kapal dagang VOC mulai menghegemoni kekuasaan dan perekonomian. Kerajaan Landak bersama rakyat melakukan pemberontakan: Ratu Adil (1831), Gusti Kandut (1890), dan Gusti Abdurrani (1899).

Pada masa kekuasaan Pangeran Ratu Gusti Abdul Hamid—bergelar Panembahan Gusti Abdul Hamid, Raja Kerajaan Landak ke-27—kerajaan mencapai puncak kejayaan. Kehidupan rakyat berkembang pesat di bidang perekonomian, kesehatan, maupun pendidikan. Negeri Ngabang menjadi pusat perhubungan setelah dibangunnya jalan raya yang menghubungkan Ngabang dengan Kota Mempawah, Jembatan Sungai Landak, serta jalan menuju Kota Sanggau.

Salah satu bukti kemajuan pendidikan adalah buku lontar bernama Indoek Lontar Keradjaan Landak tahun 1942, dikarang oleh Gusti Soelong Lelanang bin Gusti Mahmud Pangeran Leksamana yang berisi sejarah Kerajaan Landak. “Buku lontar tersebut disimpan oleh Sekretaris Kerajaan Landak yakni Gusti Hermansyah. Gusti Hermansyah sekarang sedang mengkonversi sejarah yang terdiri berbagai versi, menjadi satu versi yang sesuai dengan kenyataan dan sejarah,” tutur Gusti Muhammad Nasariansyah.

Tragedi Mandor dan Akhir Kekuasaan

Kemajuan tersebut justru memicu kekejaman. Jepang melakukan kudeta besar-besaran dengan membunuh Pangeran Ratu Gusti Abdul Hamid—salah satu putra terbaik Kalimantan Barat—dalam peristiwa Mandor. Ratusan ribu warga juga menjadi korban.

Terjadi kekosongan kekuasaan. Kerajaan Landak kemudian diperintah oleh Pangeran Mangku Gusti Sotol (Wakil Raja XXVIII), dilanjutkan Haji Gusti Mohammad Appandi Ranie (wakil panembahan). Pangeran Mangkubumi Gusti Mohammad Appandi Ranie Setia Negara (1946) mengabdi kepada negara lewat militer. Beliau adalah pejuang perintis kemerdekaan eksponen 45, legiun veteran PKRI, dan mantan kepala Swapraja yang mempelopori penyatuan Swapraja ke dalam Republik Indonesia.

Meriam yang Tak Bisa Dipindahkan

Gusti Mahyuddin bercerita, dua buah meriam di Munggu Ayu menjadi bukti adanya Kesultanan Landak yang pertama. “Meriam ini dahulu pernah menjadi sengketa dan diakui oleh pihak Belanda. Belanda berusaha memindahkan kedua meriam tersebut dengan menarik kapal, namun tidak berhasil,” ungkapnya seraya menceritakan penemuan meriam dari dasar sungai ketika warga sedang menambang emas dan intan.

Tradisi Tahunan yang Lestari

Gusti Suryansyah Amiruddin merupakan Pangeran Ratu Kerajaan Landak yang paling terakhir memerintah (2000-sekarang). Saat ini ia mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tanjung Pura, Pontianak. Dalam acara kerajaan seperti Tumpang Negeri dan ziarah akbar, beliau selalu datang ke Landak.

Setiap bulan Juni, kerajaan mengadakan ziarah akbar dan tumpang negeri—bentuk rasa syukur, bersedekah, dan tolak bala selama tiga hari berturut-turut, mulai dari hulu, tengah, hingga hilir. Ziarah dilakukan ke makam Raden Abdul Kahar, Raja pertama Kerajaan Landak di Munggu Ayu.

“Sedangkan dalam tasyakuran, dilakukan sedekah berupa bahan makanan, hasil bumi, hasil ternak yang diletakkan di perahu. Perahu ini kemudian dihanyutkan dari hulu sampai ke hilir. Tumpeng digantung di anak-anak sungai, khususnya tempat keramat. Begitu juga dengan sesajen yang terdiri dari nasi merah dan nasi putih,” ungkap Gusti Mahyuddin.

 

Sumber: Indonesia Kaya

Bagikan Disalin

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
1 month ago
1 month ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!