Lumajang Perkuat “Benteng” Hadapi Lahar Semeru dengan Proyek Baru

2 menit membaca
Fazar Eka
Daerah, News - 08 Feb 2026

Indoragamnewscom, LUMAJANG-Pemerintah Kabupaten Lumajang mempercepat mitigasi bencana Gunung Semeru melalui implementasi proyek infrastruktur pengendali lahar skala besar.

Komitmen tersebut diwujudkan lewat sosialisasi Volcanic Disaster Risk Reduction Sector Loan (VDRRSL) Package S2 dan S4, yang menargetkan pengurangan risiko bencana vulkanik di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bondoyudo–Bedadung.

Sekretaris Daerah Lumajang, Agus Triyono, menegaskan proyek ini adalah investasi keselamatan jangka panjang. Fokusnya melindungi nyawa, mata pencaharian, dan aset ekonomi warga dari ancaman lahar yang berulang.

Package S2: Membendung Ancaman dari Hulu

Proyek pertama, Package S2, terkonsentrasi di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Lokasi ini menjadi titik kritis di hulu DAS Bondoyudo–Bedadung, jalur utama aliran lahar.

Pembangunan meliputi dua unit check dam (sabodam), revetmen beton sepanjang 900 meter, dan jalan akses 500 meter. Infrastruktur berkapasitas tampung satu juta meter kubik sedimen ini dirancang untuk meredam energi dan material lahar sebelum menerjang kawasan hilir yang lebih padat.

Package S4: Melindungi Kawasan Rentan di Hilir

Sementara itu, Package S4 dibangun di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, yang kerap terdampak banjir lahar dan sedimentasi. Pekerjaan mencakup pembangunan satu consolidation dam dan enam ruas tanggul pengarah total 2.500 meter.

Dengan kapasitas tampung 0,34 juta meter kubik, proyek ini diharapkan menjadi pelindung utama bagi kawasan Candipuro, memperkuat ketahanan infrastruktur publik dan aktivitas ekonomi warga.

Mitigasi Bencana Harus Sinergi dengan Realitas Sosial

Agus Triyono mengingatkan, kesuksesan proyek fisik harus berjalan beriringan dengan pengelolaan aspek sosial. Khususnya, menyangkut aktivitas penambangan pasir tradisional yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

“Mitigasi bencana harus berjalan seiring dengan pengelolaan sosial. Koordinasi lintas sektor mutlak diperlukan agar pembangunan tetap tertib, aman, dan tidak menimbulkan konflik,” tegas Agus di Kantor Bupati Lumajang, Jumat (6/2/2026).

Pernyataan ini menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak boleh menciptakan masalah sosial baru di tengah upaya mengurangi risiko alam.

Agus menekankan, keberhasilan Proyek VDRRSL tak hanya diukur dari selesainya konstruksi. Tolok ukur sesungguhnya adalah penurunan tingkat kerentanan, peningkatan kesiapsiagaan, dan tumbuhnya kesadaran kolektif tentang pentingnya mitigasi berkelanjutan.

“Setiap infrastruktur pengendali bencana yang dibangun hari ini adalah upaya melindungi nyawa, sumber penghidupan, dan masa depan masyarakat Lumajang,” ujarnya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!