Menangkal Dampak Geopolitik Global Melalui Cadangan Beras Sepuluh Bulan

2 menit membaca
Nandang Permana
Nasional - 09 Mar 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Pemerintah memperkuat kedaulatan pangan nasional sebagai instrumen pertahanan di tengah ketegangan geopolitik global dan ancaman kekeringan yang berpotensi mengganggu rantai pasok dunia.

Melalui pemantauan intensif terhadap stok beras per Maret 2026, ketersediaan pangan domestik dipastikan berada pada posisi aman dengan total cadangan mencapai 27,99 juta ton.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa dengan volume stok tersebut, kebutuhan masyarakat Indonesia tercukupi hingga 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga ketergantungan terhadap dinamika pasar internasional dapat diminimalisasi.

Kekuatan cadangan pangan ini bersumber dari akumulasi stok Perum Bulog sebesar 3,76 juta ton, stok masyarakat 12,50 juta ton, serta sisa padi siap panen atau standing crop sebanyak 11,73 juta ton.

Di sisi lain, laju produksi bulanan yang menyentuh angka 2,6 hingga 5,7 juta ton secara konsisten melampaui rata-rata konsumsi nasional sebesar 2,59 juta ton. Kondisi surplus ini menjadi fondasi penting bagi stabilitas ekonomi dalam negeri di tengah fluktuasi harga komoditas global.

“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” ujar Amran di dikutip Senin (9/3/2026).

Sebagai langkah antisipasi terhadap anomali cuaca El Niño, otoritas pertanian mengandalkan perluasan infrastruktur pengairan melalui skema pompanisasi. Program yang tahun lalu telah mencakup 1,2 juta hektare lahan ini akan ditambah sebesar 1 juta hektare pada tahun berjalan guna menjamin produktivitas tanaman padi di musim kering.

Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan irigasi perpompaan (irpom) untuk luasan lahan serupa sebagai perlindungan berlapis terhadap risiko gagal panen.

“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga,” tegasnya.

Dukungan terhadap sektor hulu juga diperkuat dengan jaminan ketersediaan pupuk yang saat ini mengalami penurunan harga sekitar 20 persen. Devaluasi harga input produksi ini diharapkan menjadi insentif bagi petani untuk meningkatkan intensitas tanam menjelang puncak panen raya.
Dengan proyeksi kenaikan stok pemerintah hingga 5 juta ton dalam dua bulan mendatang, Indonesia diprediksi mampu mempertahankan stabilitas pangan meski tekanan eksternal terus meningkat.
Fokus pada swasembada ini dianggap sebagai langkah paling rasional dalam merespons ketidakpastian situasi global saat ini.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!