Museum Mandala Wangsit Siliwangi Saksi Bisu Kegigihan Prajurit dan Rakyat Jabar

2 menit membaca
Evan Permana
News, Wisata - 03 Mar 2026

Indoragamnewscom-Di Jalan Lembong Nomor 38, sebuah bangunan bergaya arsitektur romantisisme akhir yang didirikan antara 1910 hingga 1915 menyimpan ribuan cerita perlawanan.

Museum Mandala Wangsit Siliwangi, yang dulunya menjadi markas militer dan target utama serangan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan Kapten Raymond Westerling, kini berdiri sebagai saksi bisu perjuangan prajurit Siliwangi bersama rakyat Jawa Barat mempertahankan tanah air.

Gedung seluas 4.176 meter persegi ini pada masa kolonial dihuni perwira Belanda, lalu beralih fungsi menjadi markas Divisi Siliwangi pada 1949-1950.

Pada 23 Januari 1950, pemberontakan APRA meluluhlantakkan tempat ini dan menewaskan 97 prajurit, termasuk Mayor Adolf Lembong yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di depan museum.

Dua puluh tiga tahun kemudian, tepatnya 23 Mei 1966, Panglima Divisi Siliwangi Kolonel Ibrahim Adjie meresmikannya sebagai museum untuk menyimpan amanat, petuah, atau nasihat—makna harfiah dari “Mandala Wangsit”—dari para pejuang masa lalu kepada generasi penerus.

Memasuki ruang pamer, pengunjung disuguhi aneka koleksi sisa-sisa perjuangan. Terdapat senjata tradisional khas Sunda seperti kujang, klewang, pedang bambu, tombak, panah, dan keris, berjejer dengan senjata api modern, meriam, panser rel buatan Indonesia, hingga kendaraan lapis baja .

Ruang Pemberontakan DI/TII memajang foto-foto operasi penumpasan gerakan di Jawa Barat, sementara Ruang Palagan Bandung menampilkan diorama heroik peristiwa Bojong Kokosan.

Salah satu daya tarik utama adalah koleksi uang kertas dan koin dari masa penjajahan hingga awal kemerdekaan, ditata rapi dalam bingkai besar yang menempel di dinding.

Di sudut lain, deretan foto para mantan Panglima Divisi Siliwangi menjadi saksi pergantian kepemimpinan satuan elit TNI AD tersebut .

Museum ini juga menyimpan bendera Merah Putih yang pertama kali dikibarkan di Alun-alun Bandung serta koleksi bedug Simawa Rame, tank, dan ambulans militer.

Pengunjung yang tertarik menelusuri sejarah dipersilakan datang dengan jam operasional yang bervariasi. Berdasarkan data Sistem Registrasi Nasional Museum Kementerian Kebudayaan, museum buka setiap Senin hingga Kamis pukul 08.00–15.00 WIB.

Pada Jumat, jam kunjung lebih pendek, hanya hingga pukul 10.00 WIB. Sabtu buka pukul 08.00–12.00 WIB, dan tutup setiap Minggu serta hari libur nasional.

Menariknya, tidak ada tiket masuk yang dipungut; pengunjung hanya perlu mengisi buku tamu . Meski demikian, beberapa sumber menyebutkan adanya donasi sukarela atau biaya masuk sekitar Rp5.000.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!