Ilustrasi seorang pria muslim sedang menuntun pria lansia yang buta untuk menyebrang jalan/Iustrasi: IndoragamnewcomIndoragamnewscom-Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa Rasulullah adalah teladan terbaik bagi umat manusia. Namun yang kerap luput dari kesadaran, setiap Muslim—sadar atau tidak—juga menjadi contoh bagi orang-orang di sekitarnya, mulai dari adik kandung, teman sebaya, anak sendiri, hingga rekan non-Muslim yang setiap hari menyaksikan perilakunya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21). Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah contoh paripurna dalam menerapkan ajaran Islam di segala aspek kehidupan. Umat Islam tidak perlu mencari panutan kepada para aktor film, bintang rock, atlet, atau politisi sebagaimana dilakukan oleh mereka yang tidak beriman.
Para ulama menjelaskan bahwa sistem moral dalam Islam berasal dari sumber ilahi yang tidak dapat diubah oleh tren atau budaya masyarakat . Inilah yang membedakannya dari sistem etika lainnya. Namun tantangan muncul ketika umat Islam hidup di era modern, apalagi di lingkungan non-Muslim, dan merasa kesulitan menerjemahkan keteladanan Rasul ke dalam konteks kekinian.
Dalam situasi seperti ini, ulama kredibel menjadi rujukan karena mereka adalah pewaris para nabi, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dinilai sahih oleh al-Albani). Mereka memiliki pengetahuan untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah serta ketakwaan untuk menerapkannya di masa kini.

Namun ada aspek yang lebih dekat dan tak kalah penting: setiap Muslim tanpa sadar adalah teladan bagi orang lain. Fenomena ini sering luput dari perhatian. Anak-anak, misalnya, memiliki kecenderungan alami untuk meniru orang tua mereka. Dalam sebuah kajian disebutkan bahwa para ilmuwan mendeskripsikan masa kanak-kanak sebagai proses pembentukan yang mengikuti contoh di sekitarnya . Anak belajar bicara, nilai-nilai, bahkan tradisi melalui imitasi terhadap perilaku orang dewasa di sekitarnya.
Seorang ayah yang merokok di depan anaknya, misalnya, tengah menyiapkan generasi perokok berikutnya. Dalam kisah nyata, seorang anak berusia empat tahun kedapatan menyalakan rokok yang ditinggalkan ayahnya. Ketika ditanya, ia menjawab polos: “Aku melakukan seperti yang Ayah lakukan.” Peristiwa itu menjadi tamparan keras yang akhirnya menyadarkan sang ayah untuk berhenti merokok .
Rasulullah ﷺ sendiri telah memperingatkan bahaya kebohongan kecil di hadapan anak. Dari Abdullah bin Amir RA, ia bercerita bahwa ibunya pernah memanggilnya saat Rasulullah sedang berada di rumah. Sang ibu berkata: “Kemarilah, aku akan memberi sesuatu.” Rasulullah bertanya: “Apa yang ingin kau berikan?” Ibu itu menjawab: “Aku ingin memberinya kurma.” Rasulullah bersabda: “Jika engkau tidak memberinya apa-apa, niscaya akan dicatat satu kebohongan atas dirimu.” (HR. Abu Dawud) .
Para peneliti menegaskan bahwa keteladanan positif berkontribusi pada kemajuan masyarakat, mengangkat standar moral, dan mendorong kemajuan sosial yang efektif . Sebaliknya, keteladanan buruk dapat menjadi sumber pembenaran bagi orang lain untuk melakukan kesalahan. Setan kerap menggunakan contoh buruk sebagai alasan: orang berkata pada diri sendiri, “Si fulan saja melakukannya, pasti tidak seburuk itu.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mencontohkan dalam Islam suatu contoh yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mencontohkan dalam Islam suatu contoh yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa dampak dari keteladanan seseorang akan terus mengalir, baik pahala maupun dosa, selama perbuatan itu terus ditiru.
Di lingkungan pertemanan, pengaruh teman juga sangat besar. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dinilai sahih oleh al-Albani). Banyak orang melakukan sesuatu—baik atau buruk—hanya karena ingin diterima dalam kelompoknya.
Bagi mereka yang pernah belajar di luar negeri, posisi sebagai teladan menjadi lebih berat. Ketika kembali ke tanah air, keluarga, kolega, bahkan orang yang tidak dikenal akan memandang mereka dengan hormat. Pertanyaannya: apakah keteladanan yang ditunjukkan akan meningkatkan kecintaan orang pada Islam, atau justru sebaliknya?
Para pengurus masjid dan komite Islam pun tak luput dari tanggung jawab ini. Ketika pengurus masjid sendiri jarang hadir di masjid, pesan yang tersampaikan kepada generasi muda sangat gamblang: “Mengapa aku harus datang ke masjid jika pemimpinnya saja tidak datang?” Seorang pemuda pernah berkata demikian, sebagaimana dikeluhkan banyak tokoh masyarakat.
Bagi para muallaf, situasinya lebih kritis. Mereka baru masuk Islam dan belum memiliki cukup pengetahuan untuk membedakan mana praktik yang benar dan mana yang keliru. Teman Muslim yang mereka jadikan panutan akan sangat menentukan kualitas keislaman mereka ke depan. Jika teladan yang diberikan baik, mereka akan tumbuh dalam kebaikan. Jika buruk, mereka bisa tersesat tanpa sempat menyadarinya.
Di tengah masyarakat non-Muslim, setiap Muslim adalah duta tanpa amplop. Perilaku sehari-hari—cara berbicara, kejujuran dalam bertransaksi, kesabaran dalam menghadapi masalah—semuanya menjadi materi dakwah yang lebih efektif daripada ribuan ceramah. Seseorang bisa jadi tertarik pada Islam bukan karena buku yang dibaca, tapi karena melihat keindahan akhlak seorang Muslim.
Tentang meneladani non-Muslim dalam hal kebaikan duniawi, para ulama membolehkannya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah fatwa, mengagumi dan mengambil teladan dari non-Muslim dalam hal kerendahan hati atau kebaikan karakter lainnya diperbolehkan . Namun tentu saja, teladan utama tetaplah Rasulullah ﷺ dan para pewarisnya dari kalangan ulama dan orang saleh.
Sumber: SunahOnline






