Mie Bancir, Kuliner Khas Banjar dengan Kuah Nanggung Kaya Rempah

3 menit membaca
Evan Permana
Wisata - 12 Mar 2026

Indoragamnewscom-Di tengah kekayaan kuliner Nusantara, Banjarmasin menyimpan hidangan mie yang unik bernama mie bancir. Berbeda dengan sajian mie pada umumnya, kuliner khas Kalimantan Selatan ini hadir dengan kuah nanggung atau nyemek—tidak sebanyak sup namun juga tidak sekering mie goreng—yang justru menjadi daya tarik utamanya.

Dinamakan mie bancir karena penampilan penyajiannya yang terkesan “setengah-setengah”. Dalam bahasa Banjar, bancir berarti banci atau bencong, merujuk pada posisi kuah yang berada di antara basah dan kering.

Setelah matang, mie disajikan dengan kuah kental yang tidak terlalu banyak sehingga sekilas tampak seperti mie goreng, namun saat disantap, cita rasa kuahnya yang gurih langsung terasa.

Mie kuning yang digunakan lebih tebal dan kenyal, berpadu sempurna dengan kuah berwarna kuning kecoklatan hingga kemerahan. Warna merah pada kuah berasal dari tambahan saus tomat khas Banjar, sehingga tak heran jika warga setempat kerap menyebut hidangan ini sebagai mi habang, karena habang dalam bahasa Banjar berarti merah.

Bumbu dasar mie bancir kurang lebih sama dengan bumbu untuk membuat soto atau sop khas Banjar. Rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lada, kayu manis, kapulaga, cengkih, dan bunga lawang menjadi kunci keharuman kuahnya . Kaldu ayam kampung yang digunakan semakin memperkaya rasa gurih alami.

Dalam penyajiannya, mie bancir yang original biasanya dilengkapi suwiran daging ayam kampung, irisan telur itik rebus, taburan bawang goreng, irisan daun seledri, serta irisan limau kuit atau jeruk nipis yang memberikan kesegaran.
Seiring waktu, hidangan ini hadir dalam variasi lebih beragam dengan tambahan protein seperti ayam katsu, ceker ayam, hingga telur dadar sesuai selera.

Jejak sejarah mie bancir tak lepas dari akulturasi budaya. Banjarmasin dahulu dikenal sebagai daerah yang banyak didatangi pedagang Tionghoa. Kuat dugaan bahwa sajian mie dibawa para pedagang dari Cina, kemudian seiring perkembangannya mengalami akulturasi sesuai lidah khas Banjar hingga lahirlah mie bancir.

Popularitas mie bancir kian berkibar sejak Agus Sasirangan, putra asli Banjar yang menjadi runner up MasterChef Indonesia season 1, mendirikan beberapa restoran mie bancir di Banjarmasin dan Banjarbaru.

Ia berinisiatif mengemas kuliner jalanan yang awalnya hanya ada di warung tenda dan gerobakan menjadi lebih menarik agar semua kalangan bisa mencicipinya.

Agus pun menegaskan bahwa masyarakat Banjar sudah sangat familiar dengan hidangan ini, sehingga tidak berlebihan jika mie bancir dianggap sebagai warisan kuliner daerah Kalimantan Selatan .

Beberapa tempat legendaris untuk menikmati mie bancir di antaranya Marasa Maka Tahu yang berdiri sejak 1960 dan disebut sebagai pelopor pertama nama mie bancir di Banjarmasin.

Depot Palimasan yang terkenal dengan soto Banjar juga menyajikan mie bancir sebagai hidangan andalan. Warung Andi yang didirikan tahun 1982, Mie Joko Pekauman yang konon menjadi tempat mie bancir paling enak, serta Mie Bancir Khas Banjar milik Agus Sasirangan di Jalan Hasan Basry menjadi pilihan bagi pecinta kuliner.

Dengan cita rasa autentik yang diwariskan turun-temurun, mie bancir menjadi hidangan yang wajib dicoba saat berkunjung ke Kota Seribu Sungai. Keunikan kuahnya yang nanggung justru memberikan pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!