Poster film Warung Pocong /Foto: IstimewaIndoragamnewscom-Tiga pemuda Jakarta tergiur gaji fantastis. Kartono, Agus, dan Makmur sedang dalam tekanan. Utang menumpuk, investasi bodong menghancurkan harapan, kebutuhan keluarga tak terpenuhi. Lalu datang tawaran yang tak masuk akal: menjadi penjaga warung di desa terpencil dengan bayaran Rp50 juta per bulan. Tanpa pikir panjang, mereka menerima.

Warung itu bernama Lali Jiwo. Di situlah segalanya berubah.
Film Warung Pocong garapan sutradara Bendolt (Imam Bendolt) ini tayang mulai 9 April 2026 di jaringan bioskop XXI, CGV, dan Cinépolis. Durasi 97 menit, rating 13+. Yang membedakan dari film horor pada umumnya: keseimbangan antara teror dan tawa.
Produser Eko Supriyanto meramu dua kekuatan sekaligus. Pemain horor diisi nama-nama seperti Shareefa Daanish, Teuku Rifnu Wikana, Kiki Narendra, dan Whani Darmawan. Sementara komedi murni dipegang trio komika: Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil.

“Pas merangkai cast, saya diskusi sama Mas Eko. Kita butuh tiga karakter kuat untuk jadi ‘garam’ atau bumbunya. Tapi saya jaga banget, pemain horor jangan sampai melebihi porsi komedi, biar komedi di batasan komika saja,” kata Bendolt.
Kartono (Fajar Nugra) digambarkan sebagai sandwich generation. Ayahnya mewariskan utang. Ia harus menghidupi orang tua sekaligus menyekolahkan adik-adik. Agus dan Makmur tak kalah runyam: satu korban penipuan, satu lagi kehilangan segalanya akibat investasi bodong.
“Masalah utang, penipuan, sandwich generation. Karena relate sih. Saya berperan sebagai Makmur, tapi nasibnya kurang makmur. Ia karyawan perusahaan yang ternyata investasi bodong. Ia dijadikan korban oleh perusahaan,” ujar Randhika Djamil.
Kusno (Whani Darmawan), pria tua misterius, muncul di saat genting. Tawaran gaji besar diterima begitu saja. Ketiganya berangkat ke Desa Lali Jiwo tanpa bertanya lebih dulu. Di sanalah teror dimulai. Warung yang mereka jaga ternyata sarang maut. Malam-malam dihantui sosok pocong. Sesajen aneh muncul di setiap sudut. Jebakan demi jebakan terungkap perlahan.
Fajar Nugra mengaku langsung tertarik setelah membaca premis. “Dari premis saja aku merasa ini potensi komedinya besar. Ditambah yang main ada standup comedian. Konsultan komedinya, standup comedian. Selain penulis, peran kami sebagai aktor dan konsultan komedi juga bisa memberi potensi lebih untuk skrip ini,” katanya.







Tidak ada komentar