Ilustrasi merendahkan orang lain/Foto: istimewaIndoragamnewscom-Pernah nggak sih kamu melihat orang yang melontarkan komentar nyelekit, tapi sambil tersenyum seolah itu cuma jokes? Dalam tongkrongan sehari-hari, hal ini sering dianggap wajar.

Padahal, merendahkan orang lain meski dibungkus tawa adalah perbuatan yang dilarang keras dalam Islam.
Alasannya simpel tapi dalam: perbuatan ini bisa menyakiti hati, merusak silaturahmi, dan yang paling bahaya, menumbuhkan benih kesombongan yang dibenci Allah SWT.
Yuk kita bedah kenapa kita harus berhenti meremehkan orang lain dan bagaimana cara mengubah kebiasaan buruk ini menjadi pahala.

Standar Mulia Itu Milik Allah, Bukan Penilaian Kita
Sebelum merasa lebih hebat dari orang lain, mari kita renungkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok itu lebih baik daripada mereka…”
Ayat ini adalah “tamparan” halus bagi kita. Standar keren atau mulianya seseorang bukan dilihat dari fisik atau status sosial, melainkan dari ketakwaannya di sisi Allah. Bisa jadi, orang yang kita remehkan justru punya kedudukan yang jauh lebih tinggi di akhirat kelak.
Rasulullah SAW pun mempertegas hal ini dalam hadits riwayat Muslim:
“Cukuplah seseorang dianggap buruk apabila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”
Bentuk “Hinaan Halus” yang Sering Kita Anggap Wajar
Kebiasaan merendahkan nggak selalu lewat makian kasar. Sering kali muncul dalam bentuk yang terlihat “lucu” tapi sebenarnya menusuk, seperti:
Humor yang mengejek: Menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan tertawaan.
Sindiran halus: Ucapan manis tapi punya makna meremehkan.
Toxic comparison: Membanding-bandingkan orang lain secara negatif.
Bahasa tubuh: Memutar mata, mengangkat alis, atau ekspresi “meremehkan” saat orang lain bicara.
Meski pelaku merasa “ah, cuma bercanda kok!”, dampaknya tetap bisa menghancurkan harga diri orang lain dan memicu dendam.
7 Langkah Praktis Biar Jadi Pribadi yang Menyejukkan
Islam nggak cuma melarang, tapi juga kasih solusi. Biar lisan kita nggak jadi “pisau” bagi orang lain, yuk praktekkan langkah ini:
1.Filter Lisan: Berpikirlah sebelum bicara, “Apakah ucapan ini bakal nyakitin orang lain?”.
2.Sopan Santun: Always! Gunakan bahasa yang enak didengar dalam kondisi apa pun.
3.Dengarkan dengan Hati: Jangan cuma dengerin suara, tapi pahami perasaan orang yang lagi bicara.
4.Kritik yang Membangun: Ganti celaan dengan saran yang solutif.
5.Hargai Beda Pendapat: Nggak perlu meremehkan orang yang pikirannya beda sama kamu.
6.Puji dengan Tulus: Jangan pelit kasih apresiasi buat memotivasi orang lain.
7.Berhenti Membandingkan: Setiap orang punya “garis start” dan perjuangan yang beda-beda.
Kesimpulan
Menjaga lisan bukan cuma soal etika sosial atau sopan santun, tapi ini adalah bagian dari ibadah. Dengan menghormati sesama, kita sedang menjaga nilai iman dalam diri
Meneladani kelembutan Rasulullah SAW adalah kunci utama untuk mendapatkan keberkahan hidup.
Mari mulai hari ini, kita ganti sindiran dengan pujian, dan ganti ejekan dengan doa.






