Jalan Omar Mukhtar Kota Gaza setelah Terkena serangan Bom Israel pada Februari 2025/Foto: WikipediaIndoragamnewscom, JAKARTA-Sebuah langkah diplomatis mengejutkan datang dari Jakarta. Indonesia, bersama tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya, secara resmi memutuskan untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza, sebuah lembaga kontroversial yang dibentuk langsung oleh Presiden Amerika Serikat ke-47, Donald Trump.

Keputusan ini sontak memicu pertanyaan besar tentang arah baru perdamaian di Palestina.
Aliansi Kuat: Delapan Negara Muslim Dukung Penuh Inisiatif Trump!
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengumumkan komitmen besar ini melalui pernyataan resmi di media sosial pada Kamis (22/1/2026).

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menandatangani pernyataan bersama tersebut secara virtual dengan para koleganya dari Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Dokumen tersebut bukan sekadar formalitas. Kedelapan negara, termasuk Indonesia, dengan tegas menyatakan dukungan penuh terhadap upaya perdamaian di Jalur Gaza yang diinisiasi oleh Trump.
Mereka berkomitmen mendorong Dewan Perdamaian Gaza untuk berperan sebagai “otoritas sementara” di Jalur Gaza.
Jalan Terbuka Bagi Keamanan dan Stabilitas: Hak Palestina Ditegaskan!
Inisiatif Trump ini merupakan bagian dari “Rencana Komprehensif Mengakhiri Konflik Gaza” yang bahkan telah mendapatkan legitimasi melalui dukungan Resolusi 2803 Dewan Keamanan PBB. Koalisi delapan negara ini berharap langkah strategis ini dapat menjadi katalis untuk mempercepat perdamaian yang berkeadilan.
Pernyataan bersama juga secara krusial menegaskan kembali hak fundamental rakyat Palestina untuk mendirikan negara yang berdaulat penuh, sesuai dengan hukum internasional yang diakui.
“Dengan demikian, terbukalah jalan bagi terwujudnya keamanan dan stabilitas bagi semua negara dan rakyat di kawasan tersebut,” demikian bunyi kutipan dari pernyataan tersebut, membuka harapan baru bagi stabilitas di Timur Tengah.
Dewan Perdamaian Gaza, yang diumumkan Trump pekan lalu, melibatkan tokoh-tokoh kunci seperti utusan khusus Steve Witkoff dan menantunya, Jared Kushner. Tugas utamanya: mengawasi dan mengkoordinasikan mobilisasi sumber daya serta bantuan internasional untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Gaza.
Namun, inisiatif ini tidak datang tanpa kritik. Sejumlah negara di Eropa, khususnya, menyuarakan kekhawatiran serius bahwa kehadiran dewan ini berpotensi menggeser peran sentral dan otoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menangani konflik internasional.
Langkah Indonesia dan tujuh negara Muslim ini akan menjadi sorotan tajam di panggung global.







Tidak ada komentar