Jengkol dan Petai Bukan Sekadar Lauk, Riset Ungkap Khasiatnya sebagai Obat

4 menit membaca
Padilah Rahayu
Ragam - 04 Mar 2026

Indoragamnewscom-Jengkol dan petai, dua jenis polong yang selama ini lebih dikenal karena aroma khasnya yang menyengat, ternyata menyimpan potensi farmakologis yang serius.

Sejumlah penelitian ilmiah dalam beberapa tahun terakhir mengungkap bahwa keduanya kaya akan senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai antioksidan, antidiabetes, hingga pelindung jantung.

Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Trace Elements in Medicine and Biology pada 2021 menemukan korelasi antara konsumsi jengkol (Archidendron pauciflorum) dengan rendahnya prevalensi penyakit kardiovaskular di Jawa Barat .

Tim peneliti yang dipimpin Rimadani Pratiwi dari Universitas Padjadjaran mengukur kadar selenium dalam jengkol dari Kabupaten Subang mencapai 498 nanogram per gram—angka tertinggi dibandingkan petai dan bawang putih yang juga diteliti.

“Ada korelasi positif antara konsentrasi selenium dalam jengkol dengan prevalensi diabetes, namun berkorelasi negatif dengan prevalensi penyakit kardiovaskular,” tulis para peneliti dalam laporannya.

Selenium sendiri merupakan elemen penting yang berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh. Studi lain yang dipublikasikan di Molecules pada 2023 bahkan merambah ranah molekuler, di mana jengkol terbukti dapat berinteraksi dengan reseptor kardioprotektif seperti PPAR-γ, NF-κB, dan PI3K—protein-protein kunci dalam perlindungan sel jantung .

Petai Pencegah Aterosklerosis dan Antidiabetes

Dari keluarga petai (Parkia speciosa), serangkaian uji praklinis juga menunjukkan hasil menjanjikan.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Discover Food pada Oktober 2024 melakukan tinjauan sistematis terhadap 10 studi mengenai aktivitas antidiabetes petai. “Biji petai terbukti paling efektif dibandingkan bagian lain dari tanaman.

Senyawa seperti β-sitosterol dan stigmasterol berperan sebagai agen hipoglikemik,” tulis Haokip dan koleganya dari Women’s Christian College, Chennai .

Sementara itu, studi eksperimental di laboratorium pada 2024 menguji efektivitas ekstrak etanol petai dalam mengendalikan sel busuk (foam cells) pada tikus putih yang diinduksi aterosklerosis.

Sel busuk adalah penanda utama terbentuknya plak di pembuluh darah yang dapat memicu serangan jantung dan stroke. “Pemberian ekstrak etanol petai dosis 400 mg/kg berat badan secara signifikan mengurangi jumlah sel busuk yang terbentuk,” demikian laporan penelitian yang dimuat dalam jurnal akses terbuka tersebut.

Para peneliti menyimpulkan bahwa flavonoid, saponin, dan tanin dalam petai berperan menurunkan jumlah Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat.

Antioksidan dan Antijamur Tetap Bertahan Meski Dimasak

Pertanyaan yang kerap muncul di masyarakat adalah apakah khasiat petai dan jengkol berkurang setelah dimasak. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Prospects in Pharmaceutical Sciences pada Juli 2025 mencoba menjawabnya. Peneliti membandingkan ekstrak etanol petai mentah dan petai yang telah dimasak.

Hasilnya mengejutkan: meski dimasak, petai tetap mempertahankan aktivitas antioksidan dan antijamurnya. “Kandungan total fenol petai mentah tercatat 93,17 mg GAE/g, sedikit lebih tinggi dibanding petai masak (81,23 mg GAE/g).
Namun kandungan flavonoid justru meningkat signifikan pada petai masak, dari 13,25 menjadi 81,74 mg QE/g,” tulis tim peneliti yang sama.
Aktivitas antidiabetes dan antiinflamasi tetap kuat pada kedua bentuk olahan, demikian pula kemampuan menghambat jamur Candida krusei, Candida albicans, dan Candida tropicalis.

Senyawa Bioaktif dan Potensi Antibakteri

Dari sisi fitokimia, jengkol terbukti kaya akan senyawa fenolik, flavonoid, dan saponin. Studi tentang dua varietas jengkol dari Bengkulu—jengkol gajah dan jengkol padi—yang dipublikasikan di Biodiversitas Journal of Biological Diversity pada 2019 menunjukkan kandungan saponin pada kulit jengkol mencapai 26,52 persen, total fenol 2,99 persen, dan tanin 1,22 persen.

“Kulit jengkol dapat menjadi sumber serat dan saponin, sementara daunnya berpotensi sebagai sumber protein, serat, dan saponin,” tulis Nur Hidayah dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu dan koleganya.

Bahkan, bakteri endofit yang hidup di dalam jaringan jengkol pun menyimpan potensi farmasi. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Research in Pharmacy pada 2023 mengisolasi bakteri Bacillus pseudomycoides dari jengkol yang memiliki aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC50 24,87 μg/mL serta kemampuan menghambat bakteri Staphylococcus aureus .
Senyawa yang dihasilkan bakteri ini juga mampu menghambat pembentukan biofilm bakteri hingga 62,59 persen.

Kajian literatur dari Perpustakaan Digital ITB menegaskan bahwa secara tradisional, masyarakat Indonesia telah lama menggunakan bengkuang, petai, dan jengkol untuk mengatasi darah tinggi, kencing manis, dan infeksi jamur—yang kini terbukti secara ilmiah melalui uji praklinik.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!