Kerajinan Gelang Lilis Lamiang, Kekayaan Budaya Dayak Ngaju yang Masih Terjaga

2 menit membaca
Nita Susilawati
Ragam - 06 Des 2025

Indoragamnewscom, PALANGKA RAYA-Kerajinan Lilis Lamiang menjadi salah satu kekayaan budaya Dayak Ngaju yang terus dijaga keberadaannya. Di Palangka Raya, pengrajin muda Vino A. Putera telah menekuni pembuatan Lilis Lamiang sejak 2017. Ia mengaku mulai berkarya karena kekaguman sekaligus keinginan untuk melestarikan benda adat yang memiliki nilai budaya tinggi tersebut.

“Yang menginspirasi saya adalah keunikan dan pentingnya menjaga produk kebudayaan. Saya ingin orang di luar sana, bukan hanya masyarakat Dayak, mengenal adat Dayak Ngaju,” ujar Vino saat ditemui di Toko Putera Perdana Kerajinan Batu Permata dan Khas Daerah, Jalan Sumbawa, Palangka Raya, Kamis (4/12/2025).

Lilis Lamiang memiliki makna budaya mendalam bagi masyarakat Dayak Ngaju. Perhiasan berbentuk silinder ini digunakan dalam berbagai ritual adat, terutama prosesi peminangan dan pernikahan. Vino menjelaskan bahwa keluarga perempuan biasanya menyiapkan Lilis Lamiang Turus Pelek, sementara pihak laki-laki membawa Lilis Lamiang sebagai syarat adat.

Ia menambahkan bahwa Lilis Lamiang juga sering diberikan kepada tamu kehormatan, tokoh adat, atau pejabat sebagai simbol penghormatan dan penerimaan sebagai bagian dari keluarga Dayak.

Untuk keperluan adat, Lilis Lamiang Turus Pelek berwarna merah, kuning, dan putih kecokelatan, umumnya terbuat dari batu carnelian berbentuk segi delapan dengan lubang tembus. Jenis batu lain yang digunakan meliputi carnelian, agate, onix, jasper, badar besi, fosil kayu, hingga obsidian.

Meski terlihat sederhana, pembuatan Lilis Lamiang membutuhkan ketelitian tinggi. Dari bahan bongkahan batu, prosesnya memakan waktu 2–3 jam melalui tahapan pemotongan, pengeboran, pembentukan menyerupai kendang atau bambu, pemotongan segi delapan, perapian sisi, penghalusan, hingga pengkilapan dua tahap menggunakan minyak khusus dan serbuk intan. Jika menggunakan bahan setengah jadi, waktu pengerjaan lebih cepat, sekitar satu jam.

“Proses pengeboran adalah tahap paling berisiko. Batu bisa pecah, retak, atau mata bor patah. Karena itu harus sangat hati-hati,” jelas Vino.

Untuk ukuran lebih panjang, 6–12 cm, waktu pengerjaan menjadi lebih lama karena detail bentuk yang semakin rumit.

Peminat Lilis Lamiang didominasi warga Kalimantan, namun pemesan dari Pulau Jawa dan daerah lain terus meningkat. Produk ini juga dipasarkan melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok.

Sebagai pengrajin muda, Vino berharap kerajinan tradisional ini semakin dikenal luas. “Semoga ke depan Lilis Lamiang bisa dikenal sampai ke luar negeri. Supaya orang tahu keunikan adat Dayak Ngaju, meski ini hanya salah satu bagiannya,” harapnya.

Ia juga menginginkan adanya dukungan pemerintah dan tokoh adat agar Lilis Lamiang menjadi produk unggulan Kalimantan Tengah.“Saya ingin Lilis Lamiang menjadi simbol resmi Kalimantan Tengah, terutama sebagai kalung dan gelang untuk tamu kehormatan. Ini warisan yang harus dijaga bersama,” tutupnya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!