Pekerja di Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan/Foto: Dok.PT.PertaminaIndoragamnewscom, JAKARTA– Komisi XII DPR RI meminta Pertamina segera merealisasikan pembangunan infrastruktur penyimpanan bahan bakar minyak (storage) baru guna memperkuat ketahanan energi nasional.

Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan cadangan BBM agar mampu bertahan lebih dari 30 hari di tengah dinamika geopolitik global.
Usai memimpin kunjungan spesifik Komisi XII DPR RI ke Pertamina Fuel Terminal Tanjung Gerem, Cilegon, Banten, Anggota Komisi XII Rokhmat Ardiyan menyampaikan bahwa pihaknya telah berdiskusi dengan Pertamina terkait target ketahanan energi.
“Tadi kami juga berdiskusi dengan Pertamina agar ketahanan energi kita bisa tercapai lebih dari 30 hari. Caranya dengan membangun storage-storage baru,” ujarnya dikutip Kamis (12/3/2026).

Saat ini kapasitas penyimpanan BBM nasional maksimal hanya 21-25 hari, sesuai standar nasional minimal 21 hari dan maksimal 25 hari karena keterbatasan fasilitas penyimpanan yang ada.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menjelaskan bahwa keterbatasan storage menjadi kendala utama, bukan ketidakmampuan menyediakan pasokan.
“Kenapa kita gak melakukan persediaan lebih dari 25 hari, kalau diadakan mau disimpan di mana? storagenya gak cukup,” katanya di Istana Kepresidenan beberapa waktu yang lalu.
Pemerintah menargetkan pembangunan storage tambahan dapat meningkatkan cadangan energi hingga 90 hari atau tiga bulan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Salah satu lokasi yang disiapkan berada di Sumatera, dengan studi kelayakan masih berlangsung dan investor potensial dari dalam serta luar negeri sudah mengantongi minat.
Rokhmat menegaskan pembangunan infrastruktur penyimpanan harus diiringi pembenahan pengelolaan depot dan kantong-kantong distribusi energi.
“Dengan pembangunan storage baru dan penyehatan depot-depot BBM kita, saya kira ketahanan energi nasional bisa semakin kuat,” tambah Politisi Fraksi Partai Gerindra itu.
Ia menilai langkah tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah memperkuat kedaulatan energi nasional.
“Saya kira ini sejalan dengan arahan Presiden agar kita memperkuat kedaulatan energi dan menuju swasembada energi,” jelasnya.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengungkapkan, untuk membangun cadangan energi dibutuhkan anggaran tidak kecil.
Setiap penambahan stok satu hari memerlukan alokasi sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun. Artinya, untuk mencapai cadangan 30 hari, diperlukan dana Rp60 triliun hingga Rp90 triliun.
Dalam kesempatan yang sama, Komisi XII DPR RI memastikan kesiapan pasokan energi menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Berdasarkan pemaparan Pertamina, PLN, dan PGN, pasokan BBM, listrik, dan gas dalam kondisi aman meski diperkirakan terjadi lonjakan konsumsi 10-20 persen selama periode tersebut.
“Komisi XII datang ke sini untuk memastikan bahwa energi, baik BBM, listrik, maupun gas, untuk Lebaran 2026 dipastikan aman. Biasanya ada kenaikan kebutuhan antara 10 sampai 20 persen, namun tadi disampaikan bahwa ketahanan BBM kita dalam kondisi aman,” kata Rokhmat.
Ia juga mengimbau masyarakat tidak khawatir terhadap ketersediaan energi nasional meskipun terdapat dinamika geopolitik global yang memengaruhi pasar energi dunia.
“Jadi masyarakat tidak perlu panik. Ketersediaan BBM seperti Pertalite, Avtur, Solar, dan Dex dipastikan aman,” pungkasnya.
PT Pertamina memastikan stok BBM dan elpiji di berbagai wilayah, termasuk Jawa Barat, dalam keadaan aman dan tersedia untuk arus mudik dan balik Lebaran 2026 hingga setelahnya.







Tidak ada komentar