Pasca Lebaran, Cabai Tembus Rp84 Ribu dan Daging Masih di Atas HAP

4 menit membaca
Ninding Yulius Permana
Nasional, News - 28 Mar 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Usai lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri, harga sejumlah bahan pangan pokok justru tak kunjung mereda.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per Sabtu (28/Maret/2026), cabai rawit merah melambung hingga Rp84.550 per kilogram—naik 7,09 persen dalam sepekan.

Sementara daging sapi kualitas I masih bertahan di angka Rp149.200 per kg, melampaui Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang ditetapkan Rp140.000 per kg.

Kondisi ini menambah beban rumah tangga di tengah fenomena post-holiday financial slump atau kelesuan finansial pasca-Lebaran yang tahun ini diwarnai dua tantangan sekaligus: tekanan harga pangan dan kekhawatiran dampak perang terhadap energi.

Anomali harga paling tajam terjadi pada komoditas cabai rawit merah. Dalam sepekan terakhir, harga komoditas ini melonjak 7,09 persen menjadi Rp84.550 per kg, jauh melampaui batas atas HAP yang ditetapkan pemerintah pada kisaran Rp40.000 hingga Rp57.000 per kg.

Lonjakan serupa juga terjadi pada cabai rawit hijau yang menyentuh Rp60.650 per kg. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat bahwa meskipun secara nasional produksi cabai rawit diperkirakan surplus 105.000 ton hingga April 2026, distribusi yang tidak merata akibat gangguan cuaca di sejumlah sentra produksi menjadi pemicu utama fluktuasi harga di tingkat konsumen.

Sektor protein hewani juga menunjukkan tekanan. Harga daging sapi kualitas I tercatat Rp149.200 per kg, turun tipis 1 persen dalam sepekan tetapi masih bertahan di atas HAP.

Sementara daging sapi kualitas II diperdagangkan Rp140.900 per kg, juga masih melampaui ambang batas resmi. Harga daging ayam ras justru menanjak 1,16 persen menjadi Rp43.550 per kg, sementara telur ayam naik ke posisi Rp33.050 per kg.

Bahan pokok lainnya turut mengalami tekanan. Minyak goreng kemasan bermerek I naik menjadi Rp22.950 per liter, sementara gula pasir lokal dibanderol Rp18.850 per kg—masih di atas HAP sebesar Rp17.500 per kg. Bawang merah dan bawang putih masing-masing berada di kisaran Rp46.100 dan Rp40.250 per kg, terus merangkak naik antara 0,7 hingga 0,9 persen.

Di tengah tren kenaikan, terdapat titik terang pada komoditas cabai merah besar dan cabai merah keriting yang justru mengalami deflasi signifikan, masing-masing turun lebih dari 7 persen dan 9 persen.

Harga beras kualitas medium cenderung stabil di angka Rp15.950 per kg, ditopang oleh stok Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Perum Bulog yang per awal Maret mencapai 3,7 juta ton dan diproyeksikan meningkat menjadi 4,5 hingga 5 juta ton pada akhir Maret seiring masuknya panen raya.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai fenomena ini bukan sekadar efek musiman yang mereda.

“Sekarang justru tantangannya makin kompleks, karena kita tidak hanya bicara soal efek musiman yang mereda, tetapi juga tekanan eksternal dan domestik yang bisa menahan konsumsi ke depan,” ujarnya.

Pemerintah, menurut Yusuf, perlu memitigasi dua tekanan utama: potensi kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah dan risiko iklim ekstrem yang mengganggu produksi pangan domestik.

Kekhawatiran itu beralasan. Harga minyak mentah dunia terus berfluktuasi di atas asumsi APBN 2026 yang dipatok 70 dolar AS per barel. Pemerintah telah menaikkan harga BBM nonsubsidi per 1 Maret 2026, dengan Pertamax naik dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter.

Sementara itu, sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, dan Vietnam telah menaikkan harga BBM, dengan Filipina bahkan mengumumkan darurat energi pada 24 Maret 2026.

Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 akan mencapai 5,05 persen berkat faktor musiman Ramadhan dan Idulfitri.

Namun ia mencatat ada kecenderungan masyarakat menahan uang tunjangan hari raya (THR) untuk dibelanjakan dan memilih mengalokasikannya sebagai tabungan akibat kekhawatiran melonjaknya harga energi dan pangan usai Lebaran.

Menanggapi situasi ini, Bapanas memastikan pemerintah terus melakukan intervensi melalui operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah di berbagai daerah. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyatakan bahwa harga sejumlah komoditas mulai menunjukkan tren perbaikan, meski aktivitas perdagangan di beberapa lokasi belum sepenuhnya pulih pasca-Lebaran.

“Mudah-mudahan dengan kondisi ini, harga yang relatif baik bisa terus stabil ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menekankan bahwa kecukupan stok saja tidak cukup untuk menjaga stabilitas harga.

“Pemerintah perlu memastikan distribusi dan logistik berjalan lancar agar harga tetap stabil,” pungkasnya.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!